Kisah Sukses Kripcing Mazaya Snack Naik Kelas lewat Ideaprise

  • 13 Jul 2026 11:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Keripik cireng atau yang lebih populer dikenal sebagai "Kripcing", cemilan renyah khas Jawa Barat, kini menjadi salah satu produk unggulan dari Kota Malang. Meskipun panganan ini identik dengan tanah Sunda, siapa sangka produk Kripcing yang sukses menembus pasar internasional ini justru lahir dari tangan dingin seorang warga asli Singosari, Kabupaten Malang.

Amalia, S.Pd., selaku Owner Mazaya Snack, menceritakan awal mula perjalanan bisnisnya yang berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Ia mengaku awalnya hanya iseng membuat cireng basah bumbu rujak untuk konsumsi lokal, namun karena terkendala alat pembeku, ia memutar otak hingga terciptalah inovasi keripik.

"Kripik cireng atau kripcing ini makanan khas Jawa Barat ya. Awalnya iseng saja bikin, tapi awalnya orang mengira saya asli Jawa Barat, ternyata saya asli Singosari, Kota Malang. Awalnya saya buat cireng bumbu rujak, karena tidak memiliki frozen (fasilitas pembeku), akhirnya saya rubah menjadi kripik cireng ini. Kan bisa bertahan 2 sampai 3 bulan, dan keripik ini tanpa pengawet," ujar Amalia saat diwawancarai, Kamis (7/7/2026).

Perjalanan Amalia dalam mematangkan produk ini tidaklah instan. Ia sempat melewati berbagai fase kegagalan serta menghadapi dinamika harga bahan baku yang kerap melonjak di pasaran. Namun, kegigihan membuatnya berhasil menemukan formula Kripcing yang pas.

"Kendala selama proses pembuatan, mungkin bahan bakunya kadang naik. Dulu juga sering merasakan kegagalan, lama-lama dicoba terus dan akhirnya berhasil. Untuk pemasarannya dulu juga hanya dari para tetangga, lalu ternyata suka. Akhirnya buat lebih, lalu dititip-titipkan di warung bakso dan warung-warung di daerah Arjosari, karena rumah saya sudah pindah ke Arjosari," tambahnya.

Hingga saat ini, komoditas Mazaya Snack telah berkembang pesat. Guna menjaga kualitas kerenyahan teksturnya dan meminimalisir kandungan minyak, Amalia menerapkan metode khusus pasca-penggorengan menggunakan mesin pengering (spinner) sebelum masuk proses pengemasan. Produknya kini sudah merambah toko pusat oleh-oleh, kantin rumah sakit, hingga klinik kesehatan.

"Dulu awal-awal jualan juga sudah pakai plastik standing pouch, namun belum ada nama brand-nya. Saya menyediakan dua varian yaitu yang ori dan yang pedas, namun saya hanya menyediakan yang ori saja (untuk titip mitra), untuk yang pedas bisa request via online. Kalau ada waktu, saya buka online lewat WhatsApp dan TikTok," jelas Amalia. Berkat ketekunan tersebut, Kripcing miliknya kini telah dikirim hingga ke Jakarta dan menembus pasar luar negeri di Malaysia.

Kesuksesan Kripcing Mazaya Snack ini juga tidak lepas dari peran komunitas UMKM lokal bernama Ideaprise UMKM Arjosari. Wadah kolaborasi kreatif ini dibentuk untuk menjawab tantangan akses pasar yang dihadapi para pelaku usaha mikro di kawasan Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Founder sekaligus Ketua dan Koordinator Ideaprise UMKM, Indryawati Puspitarini, SE., menjelaskan bahwa cikal bakal komunitas ini lahir di tengah hantaman krisis pandemi beberapa tahun lalu yang awalnya diinisiasi dari pusat Jakarta dengan nama 'Pasar Ibu'.

"Sejak tahun 2020 sudah ada UMKM, karena memang untuk wilayah Arjosari itu kesulitan bagaimana kita harus memasarkan, jadi kita terbentuk sendiri. Sebenarnya terbentuknya tidak sendiri, kita pusatnya itu dari Jakarta dan ini hanya untuk wilayah Arjosari dan sekitarnya. Kita ini muncul UMKM pada saat pandemi waktu itu bernama Pasar Ibu, itu yang dari pusat. Setelah itu dengan berjalannya waktu, kita mau diadopsi oleh kelurahan, lalu kelurahan dibentuk sendiri dengan nama Ideaprise UMKM dan kebetulan saya sebagai ketua dan koordinator jadi saya yang membawahi UMKM area Arjosari," urai Indryawati.

Indryawati menambahkan, Ideaprise resmi dikukuhkan pada 12 April 2025 oleh Almarhum Ibu Walikota Malang bertempat di Kelurahan Arjosari. Komunitas ini menampung berbagai sektor usaha, mulai dari makanan, minuman, kerajinan tangan (handcraft), suvenir pernikahan, hingga paguyuban penjahit konveksi seragam karyawan. Pihak kelurahan pun turut memfasilitasi sebuah galeri fisik sebagai ruang pamer produk kolektif yang dihuni hingga 20 UMKM per RW.

Menariknya, ekosistem usaha ini bersifat inklusif karena merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa memandang gender dan usia, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda, karyawan aktif, hingga kaum pensiunan sepanjang mereka memiliki produk kreatif dan ber-KTP Arjosari melalui proses kurasi kelayakan produk.

"Dan Kripcing keripik cireng ini masuk galeri kami. Untuk goodie bag dari Ideaprise UMKM ini kan memang rata-rata produk kering karena supaya kita bisa jauh-jauh hari kita siapkan. Sebenarnya produk basah itu bisa cuma terlalu berisiko, jadi memang yang kita ambil tuh rata-rata seperti keripik gitu dan jamu. Jadi kalau ada PKK Kota, biasanya mereka order di kelurahan dan melibatkan kami. Dan makanan andalan dari almarhum Walikota ini adalah makanan ini nih, Kripcing atau keripik cireng," imbuh wanita yang akrab disapa Ibu Indry tersebut.

Sinergi yang solid di dalam wadah Ideaprise dirasakan langsung manfaatnya oleh Amalia. Sejak bergabung menjadi mitra, volume permintaan pesanan Kripcing miliknya mengalami peningkatan signifikan, terutama untuk pemenuhan paket bingkisan (goodie bag) dalam berbagai kegiatan formal pemerintah daerah.

Menatap masa depan komersial produknya, Amalia menaruh harapan besar agar usaha hilirisasi olahan aci miliknya dapat terus ekspansif dan memiliki rumah produksi sekaligus gerai mandiri yang menyajikan variasi menu lebih lengkap.

"Setelah bergabung menjadi anggota dan mitra Ideaprise, alhamdulillah cukup membantu karena setiap ada kegiatan atau apa gitu selalu ada yang pesan goodie bag kripcing. Harapan saya, pengennya itu punya outlet sendiri gitu khusus cireng, buat cireng bumbu rujak, cireng isi, kripik cireng, dan semua varian," pungkas Amalia optimis.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....