Beauty with Responsibility: Fashion Memberdayakan Perempuan & Bumi

  • 08 Jul 2026 09:38 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Industri fesyen selama ini kerap dikaitkan dengan limbah tekstil dan eksploitasi tenaga kerja. Namun anggapan tersebut berusaha dipatahkan oleh Zama Homewear melalui konsep Beauty with Responsibility.

Bagi Founder Zama, Sri Dewi Wirautami, kecantikan sebuah produk tidak cukup hanya terlihat menarik. Produk fesyen juga harus memberikan manfaat bagi perempuan, budaya, serta lingkungan.

Saat ini sekitar 97 persen tenaga kerja Zama merupakan perempuan. Sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pekerjaan.

Mereka mendapatkan pelatihan menjahit, membordir, hingga mengerjakan berbagai produk secara mandiri dari rumah masing-masing.

Model kemitraan ini memungkinkan para perempuan tetap memperoleh penghasilan tanpa meninggalkan tanggung jawab mengurus keluarga. Menurut Sri Dewi, pemberdayaan tersebut menjadi bentuk nyata penerapan prinsip Gender Equality dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Selain menghasilkan pakaian, Zama juga aktif mengedukasi pelanggan mengenai pentingnya fesyen berkelanjutan.

Melalui berbagai konten digital, perusahaan menceritakan proses pengolahan limbah, pembuatan produk daur ulang, hingga dampak lingkungan yang berhasil dikurangi.

Menariknya, pelanggan justru memberikan respons positif. Awalnya, berbagai produk daur ulang hanya dibuat sebagai hadiah bagi pelanggan yang berbelanja dalam jumlah tertentu.

Namun setelah dipublikasikan di media sosial, banyak pelanggan meminta agar produk tersebut dijual secara umum.

"Customer sekarang tidak hanya mencari produk yang bagus, tetapi juga produk yang memiliki kepedulian terhadap bumi," kata Sri Dewi, Selasa (7/7/2026).

Meski dibuat dari limbah kain, seluruh produk sampingan tetap menggunakan material premium. Mulai dari webbing berbahan katun, resleting YKK asal Jepang, hingga lapisan dalam berbahan waterproof yang lazim digunakan pada tas ekspor.

Menurut Sri Dewi, kualitas tidak boleh dikompromikan hanya karena menggunakan bahan daur ulang. Ia meyakini harga tinggi akan diterima konsumen selama kualitas produk sebanding dengan nilai yang diberikan.

Sri Dewi menyebut Zama saat ini telah menerapkan sedikitnya empat tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu:

  • No Poverty, melalui penciptaan lapangan kerja bagi perempuan.
  • Gender Equality, dengan mayoritas tenaga kerja perempuan.
  • Responsible Consumption and Production, melalui pengelolaan limbah tekstil menjadi produk baru.
  • Partnership for the Goals, melalui sistem kemitraan dengan komunitas perempuan.

Komitmen tersebut menjadi salah satu alasan Zama memperoleh kesempatan mengikuti kurasi nasional hingga tampil dalam World Expo Osaka 2025.

Ke depan, Sri Dewi berharap Zama tidak hanya berkembang sebagai brand fashion, tetapi juga menjadi inspirasi bagi UMKM lain untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab terhadap manusia maupun lingkungan.

"Kalau setiap pelaku usaha mampu menyelesaikan limbah yang dihasilkannya sendiri, dampaknya akan sangat besar bagi bumi," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....