Dari Dapur Rumah, Pempek dan Ayam Ukep Nuraini Menembus Pasar UMKM

  • 04 Jun 2026 16:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, konsistensi dan keberanian berinovasi menjadi kunci bertahan bagi pelaku UMKM. Hal itu dibuktikan oleh Nuraini Cumaya, pemilik brand Pempek Ibu dan Ayam Mak Ukep, yang berhasil mengembangkan usaha makanan rumahan menjadi produk frozen food yang diminati konsumen di Malang dan luar daerah.

Dalam program UMKM Bicara Pro 1 RRI Malang, Nuraini menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai sejak tahun 2014. Berawal dari keputusan keluarga untuk menekuni dunia wirausaha, berbagai jenis usaha kuliner pernah dicoba, mulai dari ayam geprek, fried chicken, hingga penjualan bahan pokok.

Namun perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Banyak produk yang sempat dicoba belum mampu bertahan lama di pasar. Dari pengalaman itulah Nuraini terus melakukan evaluasi dan mencari produk yang memiliki nilai pembeda.

“Jangan berhenti mencoba. Kalau satu produk belum berhasil, cari lagi peluang berikutnya,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Titik balik terjadi ketika ia teringat latar belakang keluarganya yang berasal dari Palembang. Pengalaman masa kecil membantu orang tua membuat pempek menjadi inspirasi untuk menghadirkan produk pempek dengan cita rasa otentik.

Berbekal resep keluarga, lahirlah Pempek Ibu yang menggunakan ikan tenggiri asli dengan komposisi tepung yang tidak berlebihan. Nuraini mengusung konsep pempek berkualitas dengan harga yang tetap terjangkau agar bisa dinikmati berbagai kalangan masyarakat.

Tidak berhenti di situ, ia juga mengembangkan Ayam Mak Ukep yang menyasar kebutuhan keluarga muda akan makanan praktis. Produk frozen food ini hadir dalam dua varian, yakni ayam bawang dan ayam ketumbar, lengkap dengan sambal khas yang disesuaikan dengan masing-masing menu.

Menurut Nuraini, strategi bisnis yang diterapkan bukan mengejar keuntungan besar dalam satu transaksi, melainkan menjaga kontinuitas penjualan dan membangun pelanggan tetap.

“Margin tipis tidak masalah, yang penting produk terus bergerak dan pelanggan melakukan repeat order,” katanya.

Saat ini produksi Pempek Ibu mencapai sekitar 30 kilogram per bulan, sedangkan Ayam Mak Ukep mencapai sekitar 60 kilogram per bulan. Produk tersebut dipasarkan melalui reseller, jaringan frozen food, hingga pemasaran langsung melalui WhatsApp.

Meski menghadapi berbagai tantangan seperti kenaikan harga bahan baku, keterbatasan tenaga kerja, dan pengelolaan usaha yang masih dilakukan secara mandiri, Nuraini tetap optimistis mengembangkan usahanya.

Baginya, kunci utama menjadi wirausaha adalah percaya diri terhadap produk sendiri dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

“Fokus pada tujuan, optimis dengan produk yang kita miliki, dan terus belajar. Semua pelaku usaha pasti pernah mengalami masa sulit,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....