Pemkot Malang Hidupkan Nostalgia lewat QRISma Fest

  • 09 Mei 2026 10:23 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kekhawatiran mulai hilangnya identitas budaya Kota Malang di tengah modernisasi menjadi perhatian Pemerintah Kota Malang. Melalui Kenduri Lawasan QRISma Fest 2026 di Gedung Kesenian Gajayana, Jumat malam (8/5/2026), suasana lawas Kota Malang sengaja dihidupkan kembali melalui seni tradisional, kuliner jadul, hingga nuansa heritage kota.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan banyak simbol dan ruang lama Kota Malang yang perlahan mulai terlupakan akibat perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Karena itu, pemerintah kota berupaya menjaga memori budaya agar tetap dekat dengan generasi sekarang.

“Banyak peninggalan Kota Malang yang harus kita jaga agar kita mengingat cerita-cerita lama. Teman-teman warga Malang yang datang tidak hanya melihat modernisasi, tetapi juga masih ada peninggalan lama yang kita rawat,” ujar Wahyu.

Menurutnya, ukuran kemajuan kota tidak hanya dilihat dari pembangunan fisik maupun teknologi, tetapi juga bagaimana daerah mampu mempertahankan identitas budayanya di tengah perkembangan zaman.

“Modernisasi tidak harus mengganggu tradisi. Melalui digitalisasi, kita tidak hanya memperkenalkan kuliner, seni, dan kekayaan lokal kepada masyarakat yang lebih luas, tetapi juga menjaga tradisi yang ada,” katanya.

Semangat itu terlihat dari berbagai kegiatan yang disusun dalam QRISma Fest. Selain pencatatan rekor MURI melalui penjualan 112 tumpeng jajanan jadul menggunakan QRIS, festival juga menghadirkan pertunjukan seni tradisional Ludruk Genaro Malang.

Pertunjukan ludruk bertajuk “Ambisi Sambel Trasi” menjadi salah satu hiburan yang paling menyita perhatian pengunjung. Cerita yang dibalut humor khas ludruk tersebut mengangkat keresahan warga desa akibat hilangnya bayi secara misterius sebagai bentuk kritik sosial terhadap situasi masyarakat saat ini.

Suasana semakin meriah dengan kehadiran komedian nasional Cak Lontong dan Cak Akbar yang tampil bersama Wali Kota Malang di atas panggung ludruk.

Di sisi lain, festival ini juga menjadi pengingat bahwa ruang budaya tradisional kini semakin jarang mendapat tempat di tengah dominasi hiburan modern dan budaya digital. Karena itu, Pemerintah Kota Malang berharap kegiatan seperti QRISma Fest dapat menjadi ruang temu antara kemajuan teknologi dengan pelestarian budaya lokal agar keduanya tetap berjalan beriringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....