Tak Sekadar Tahu Tuna, Pacitan Bidik Industri Kolagen Berbasis Limbah Laut
- 02 Mei 2026 07:22 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Kabupaten Pacitan selama ini dikenal sebagai daerah pesisir selatan Jawa dengan komoditas unggulan ikan tuna. Selain dipasarkan dalam bentuk segar, hasil laut tersebut juga diolah menjadi berbagai produk, salah satunya tahu tuna yang telah menjadi identitas kuliner lokal dan dikembangkan pelaku UMKM hingga menembus pasar luar daerah.
Di balik tingginya produksi olahan tuna, muncul persoalan limbah berupa duri, tulang, kulit, dan bagian ikan lain yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, secara ilmiah, bagian-bagian tersebut mengandung senyawa bernilai tinggi seperti kolagen yang berpotensi dikembangkan melalui pendekatan bioprospeksi.
Bioprospeksi membuka peluang pemanfaatan sumber daya hayati menjadi produk bernilai ekonomi, seperti gelatin dan collagen peptide yang banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, hingga farmasi. Kolagen berbasis ikan, termasuk tuna, juga dinilai lebih ramah lingkungan serta sesuai dengan kebutuhan pasar halal.
Proses pengolahan duri tuna menjadi kolagen meliputi beberapa tahapan, mulai dari pembersihan bahan baku, penghilangan lemak dan mineral, proses ekstraksi, hingga pengeringan menjadi serbuk. Namun, proses tersebut memerlukan standar sanitasi, teknologi, serta uji keamanan agar dapat dikembangkan sebagai produk industri.
Salah seorang pelaku usaha tahu tuna di Pacitan, Sari mengungkapkan bahwa limbah duri tuna selalu dihasilkan dalam setiap proses produksi. Selama ini, pelaku usaha masih berfokus pada kualitas produk utama sehingga pemanfaatan limbah belum menjadi prioritas.
“Setiap hari produksi pasti menghasilkan sisa duri dan bagian ikan lainnya. Selama ini kami hanya memisahkan dari daging yang akan diolah, tetapi belum ada pemanfaatan lebih lanjut. Fokus kami masih pada kualitas produk utama,” ujarnya, Sabtu (1/5/2026).
Meski demikian, ia menilai pemanfaatan limbah menjadi kolagen berpotensi membuka peluang baru bagi pelaku usaha. Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya dapat mengurangi limbah, tetapi juga menambah nilai ekonomi.
“Kalau bisa diolah menjadi kolagen, tentu sangat menarik. Artinya limbah yang sebelumnya tidak bernilai bisa menjadi produk baru yang bernilai ekonomi,” katanya.
Sari menambahkan, pelaku UMKM pada dasarnya terbuka terhadap inovasi, namun membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat diterapkan secara nyata.
“Kami butuh pendampingan, mulai dari pengolahan limbah hingga pemasaran. Kalau ada kerja sama dengan kampus atau pemerintah, saya yakin ini bisa berjalan,” ujarnya.
Ia juga berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diimplementasikan secara langsung.
Pengembangan kolagen dari limbah tuna juga perlu memperhatikan prinsip keberlanjutan dan keadilan bagi masyarakat lokal. Pemanfaatan sumber daya hayati tidak hanya berorientasi pada keuntungan industri, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi nelayan, pelaku UMKM, dan lingkungan.
Konsep ini sejalan dengan ekonomi sirkular, di mana seluruh bagian tuna dimanfaatkan secara maksimal. Daging diolah menjadi produk pangan, sementara limbahnya dikembangkan menjadi bahan baku industri bernilai tinggi.
Jika dikembangkan melalui riset dan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha, inovasi ini berpotensi memperkuat posisi Pacitan sebagai daerah pesisir berbasis industri olahan laut berkelanjutan. Tidak hanya dikenal melalui tahu tuna, Pacitan juga berpeluang menjadi pusat pengembangan produk turunan berbasis riset dan bioteknologi ramah lingkungan. (Zahra Firdaus)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....