Tiput Handmade Angkat Limbah Jadi Tren

  • 04 Mar 2026 13:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Kecintaan pada bunga dan kupu-kupu menjadi benang merah karya Psykha Nur Cahyani dalam membangun Tiput Handmade.

Berbekal pengalaman di usaha konveksi sprei, ia memadukan kain utuh dan kain perca menjadi produk fashion dan aksesori dengan sentuhan artistik. Motif Tugu khas Kota Malang juga kerap ia sematkan sebagai identitas daerah. Dari usaha rumahan di Sawojajar, produknya kini menembus berbagai pameran dan pesanan souvenir skala besar.

“Kalau kita mengerjakan sesuatu yang kita senang, hasilnya akan terasa lebih hidup. Saya memang suka bunga, jadi hampir semua produk ada sentuhan itu,” ungkapnya dalam Dialog Jagongan UMKM Pro 4 RRI Malang, Selasa (3/3/2026). Ia mencontohkan pada produk outer berbahan kain utuh, bagian hiasannya memanfaatkan perca jeans yang ditempel dan dirangkai sedemikian rupa hingga tampil elegan. Kreativitas inilah yang membuat limbah industri tak lagi dipandang sebelah mata.

Selain aksesori seperti bros dan gantungan tas, Tiput Handmade juga menghadirkan vest, blazer, tas, dompet, hingga tempat jarum pentul. Ragam harga yang ditawarkan membuat produknya bisa menjangkau berbagai kalangan. Ia pun aktif mengikuti perkembangan tren agar desain yang dibuat tetap relevan dengan selera pasar. “Kita harus jeli melihat apa yang sedang diminati, jangan berhenti belajar,” katanya.

Menurutnya, pemanfaatan kembali limbah kain bukan hanya soal bisnis, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan. Dengan jaringan pemasok dari Solo yang rutin menginformasikan ketersediaan limbah industri, ia mampu menjaga keberlanjutan produksi. “Harapannya, semakin banyak orang sadar bahwa limbah bisa punya nilai tambah. Dari hal sederhana, asal tekun dan kreatif, insyaallah bisa berkembang,” tutup Psykha optimistis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....