Limbah Kain Disulap Jadi Produk Bernilai

  • 04 Mar 2026 13:21 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Berawal dari dua karung kain perca pemberian tetangga yang memiliki usaha garmen, Psykha Nur Cahyani tak pernah menyangka langkah kecilnya akan menjadi cikal bakal usaha kerajinan tangan yang terus berkembang.

Dalam dialog Jagongan UMKM di Pro 4 RRI Malang, Perempuan yang tinggal di Jalan Danau Ngebel F5C Nomor 10, Sawojajar ini sebelumnya memiliki usaha konveksi sprei. Namun keinginannya untuk membangun usaha yang lebih simpel dan tidak ribet membuatnya mencoba memanfaatkan limbah kain tersebut. Dari hasil membaca literasi di internet, ia mengenal teknik yoyo—lingkaran kain yang diserut—yang kemudian dikreasikan menjadi bando, bros, dan bunga kain untuk mempercantik penampilan anaknya.

“Awalnya hanya coba-coba, saya ingin punya usaha yang sederhana dan bisa saya nikmati prosesnya. Ternyata dari kain perca yang sering dianggap limbah, justru bisa jadi produk yang cantik dan bernilai jual,” ujar Psykha, Selasa (3/3/2026). Lingkungan tempat tinggalnya yang berada di kawasan pondok sempat menjadi harapan awal pemasaran. Ia mulai membawa produknya ke pameran sekolah dan menitipkan pada relasi. Sejak 2011, seorang temannya yang sudah memiliki brand cukup dikenal kerap mengajak produknya ikut pameran, membuka jalan promosi yang lebih luas.

Melalui brand Tiput Handmade, ia kini memproduksi beragam aksesori seperti bros, tali handphone, dan bando. Tidak hanya itu, lini fashion seperti vest, outer, blazer, tas, hingga dompet juga menjadi andalan. Untuk home decor, ia menghadirkan hiasan meja serta berbagai kerajinan unik berbahan kain. Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai Rp5 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung tingkat kerumitan dan desain. Bahan baku diperoleh dari Solo, dari relasi industri yang rutin mengabarkan jika ada limbah kain tersedia dalam jumlah besar.

“Kadang kita menganggap itu sampah, padahal kalau kreatif bisa menghasilkan uang. Kuncinya kita harus tahu tren, pintar melihat peluang, dan mengerjakan sesuatu yang kita senangi supaya bahagia,” tambahnya. Ciri khas bunga dan kupu-kupu hampir selalu hadir dalam setiap karyanya, termasuk motif Tugu khas Kota Malang sebagai identitas lokal. Ia juga melayani pesanan souvenir dalam jumlah besar, membuktikan bahwa limbah kain bisa bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....