Omah Tempe Karangjambe, Ikon Wisata Edukasi dan Ekonomi Kreatif di Kota Batu

  • 04 Mar 2026 13:00 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Batu - Omah Tempe yang terletak di Dusun Karangjambe, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, hadir sebagai pusat eduwisata yang memadukan pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan inovasi produk berbasis tempe.

Kepala Desa Beji, Denny Cahyono, atau akrab disapa Sabenny, mengungkapkan bahwa kawasan ini merupakan sentra produksi tempe tertua yang diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari 80 persen penduduk Dusun Karangjambe menggantungkan hidup sebagai perajin tempe.

"Omah Tempe kami dirikan pada 2019 sebagai pusat eduwisata yang mengenalkan proses pembuatan tempe sekaligus pengolahannya menjadi berbagai varian makanan. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan," ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Menurut Sabenny, perjalanan Desa Beji sebagai kampung tempe telah mendapat pengakuan luas. Pada 2019, desa ini meraih penghargaan Waranugraha Among Desa sebagai "Empowered Village in Micro, Small and Medium Business" dari Among Tani Foundation, Pemerintah Kota Batu, dan PusKa-PB Universitas Muhammadiyah Malang. Penghargaan itu menjadi pelecut semangat warga untuk terus mengembangkan potensi lokal.

Saat ini, tercatat 263 pengrajin tempe skala rumah tangga aktif berproduksi di Desa Beji. Setiap harinya, kebutuhan kedelai mencapai enam hingga tujuh ton yang didatangkan dari wilayah Pandaan tiga kali dalam sepekan.

"Omzet rata-rata per hari sekitar Rp70 juta, dengan harga kedelai Rp10 ribu per kilogram. Produksi tempe ini tidak hanya untuk pasar lokal, tetapi juga merambah Kecamatan Blimbing, Dinoyo, Kebalen, Pujon, Ngantang, Kasembon, hingga wilayah Kandangan di Kota Batu," paparnya.

Keunggulan tempe produksi Desa Beji terletak pada kemurnian bahan bakunya. Proses pembuatan tempe menggunakan kedelai pilihan tanpa campuran bahan lain. Selain tempe kedelai, desa ini juga mengembangkan tempe berbahan dasar kacang tanah.

"Yang menarik, tempe kacang tanah ini nonkolesterol karena minyaknya sudah diekstraksi terlebih dahulu," imbuh Sabenny.

Inovasi tak berhenti di situ. Desa Beji juga mengembangkan produk turunan tempe seperti Piya Tempe, bronis, stik, keripik, dan Mie Sule. Uniknya, Mie Sule berbahan dasar kulit ari kedelai yang diolah menjadi tepung sebelum diproses menjadi mi.

"Kami juga mengelola limbah. Kulit kedelai hasil pencucian diolah menjadi bahan makanan untuk mendukung UMKM, sementara limbah cairnya kami sulap menjadi pupuk organik," jelasnya.

Tak hanya unggul dalam produk pangan, Desa Beji juga melahirkan inovasi budaya berupa batik bermotif tempe. Motif khas ini pertama kali diperkenalkan pada Festival Beji Kampung Tempe (FBKT) 2021 dan telah dipatenkan sebagai ikon baru desa.

"Kami ingin menunjukkan bahwa dari tempe, lahir pula seni dan kreativitas," kata Sabenny.

Omah Tempe Karangjambe kini kerap menjadi tujuan wisata edukasi, terutama saat liburan. Para pelajar dari berbagai jenjang, mulai SD, SMP, hingga SMA, serta rombongan ibu-ibu PKK dari Bojonegoro, Gresik, Tuban, hingga Lamongan, datang untuk menyaksikan langsung proses produksi dan beragam olahan tempe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....