Rupiah Tertekan dan IHSG Melemah, Investor Diminta Tetap Rasional

  • 09 Jun 2026 07:18 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Melemahnya nilai tukar rupiah dan tekanan yang terjadi di pasar saham dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Namun kondisi tersebut dinilai bukan alasan untuk menjauhi investasi. Praktisi pasar modal dari Kai Hian Sekuritas, Putri Ayu Ari Kusuma, mengingatkan masyarakat agar tetap rasional dan memahami profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Dalam dialog Indonesia Cerdas di Pro 1 RRI Malang, Putri menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor global memburu aset berbasis dolar AS. Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap kepastian kebijakan dan iklim investasi nasional. Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan terkini di mana rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS dan IHSG mengalami tekanan tajam sepanjang awal Juni 2026.

Menurut Putri, kondisi pasar yang sedang tertekan justru perlu disikapi dengan kehati-hatian, bukan kepanikan.

“Kalau ditanya masih oke enggak investasi di Indonesia? Masih oke. Cuma harus lebih selektif memilih instrumen dan menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor,” ujarnya, Senin (8/6/2026).

Ia menilai banyak saham saat ini sudah mengalami koreksi signifikan sehingga perlu dicermati secara lebih mendalam berdasarkan fundamental perusahaan.

Ia menjelaskan bahwa setiap investor memiliki karakter berbeda. Investor konservatif dapat mempertimbangkan instrumen seperti reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, maupun obligasi pemerintah yang relatif lebih stabil. Sementara investor dengan toleransi risiko lebih tinggi masih dapat melirik pasar saham, dengan catatan memahami kondisi pasar dan tidak hanya mengikuti tren sesaat.

Putri juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak fenomena FOMO atau fear of missing out saat berinvestasi. Menurutnya, banyak kerugian terjadi karena investor membeli aset tanpa memahami kondisi fundamental perusahaan maupun risiko yang melekat pada instrumen tersebut.

“Jangan mudah tergoda keuntungan tinggi. Pelajari dulu fundamentalnya, lihat kesehatan perusahaannya dan jangan hanya ikut-ikutan,” katanya.

Di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan, Putri menilai literasi investasi menjadi semakin penting. Ia berharap masyarakat mulai mengenal berbagai instrumen investasi yang legal dan diawasi regulator sehingga dana yang dimiliki tidak hanya tersimpan sebagai tabungan, tetapi juga berkembang secara sehat dan terukur.

“Minimal kita bisa mengalahkan inflasi. Yang penting investasinya dipahami dan dilakukan sesuai kemampuan masing-masing,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....