PHRI Antisipasi Dampak Geopolitik Global pada Perhotelan Malang
- 15 Apr 2026 15:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Dampak konflik geopolitik global mulai dirasakan sektor perhotelan dan restoran di Kota Malang. Kenaikan harga energi dan biaya logistik menjadi faktor utama yang menekan kinerja industri, meski secara umum kondisi masih terbilang stabil pada tahun 2026.
Berdasarkan paparan Ketua PHRI BPC Kota Malang, Agoes Basoeki, sektor akomodasi dan makan minum sempat mengalami lonjakan signifikan pada tahun 2022 hingga 2023 akibat fenomena “revenge travel” dari wisatawan domestik. Namun memasuki 2024 hingga saat ini, pertumbuhan mulai melambat seiring meningkatnya biaya operasional.
“Secara umum industri masih berjalan, tetapi margin keuntungan semakin tertekan akibat kenaikan harga energi dan logistik,” ujar Agoes, Rabu (15/4/2026).
Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya minat perjalanan wisata, terutama karena biaya transportasi yang semakin mahal. Selain itu, daya beli masyarakat juga ikut tergerus, sehingga berpengaruh pada tingkat hunian hotel dan kunjungan restoran.

PHRI memproyeksikan okupansi hotel di Malang cenderung stagnan atau bahkan sedikit menurun dalam waktu dekat. Meski pendapatan secara nominal masih bisa meningkat, keuntungan bersih pelaku usaha justru mengalami penurunan.
“Wisatawan saat ini sangat sensitif terhadap harga, dengan kecenderungan short stay hanya 1 hingga 2 malam. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha,” tambahnya.
Untuk menghadapi tekanan tersebut, PHRI mendorong berbagai strategi adaptif, seperti efisiensi operasional, penghematan energi, hingga penguatan pasar domestik melalui paket staycation dan kolaborasi wisata. PHRI juga berharap adanya dukungan dari pemerintah berupa insentif sektor pariwisata, stabilitas harga energi, serta penguatan promosi wisata domestik agar industri tetap bertahan di tengah ketidakpastian global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....