Masyarakat Diminta Tetap Optimistis di tengah Pelemahan Rupiah

  • 20 Mei 2026 10:51 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Masyarakat diminta untuk tetap menjaga optimisme dan tidak mudah terpengaruh oleh persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi nasional. Saat ini pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh kisaran Rp17 ribu lebih.
⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠
“Kita jangan terlalu terpengaruh berita negatif karena itu bisa membentuk ekspektasi buruk terhadap ekonomi,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, Rabu (20/5/2026).

Ia menyebut, ekspektasi masyarakat dan investor memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Ketika masyarakat menilai kondisi ekonomi tidak menentu, permintaan terhadap dolar cenderung meningkat karena dianggap lebih aman sebagai penyimpan nilai aset. Situasi tersebut pada akhirnya semakin menekan posisi rupiah.

“Ketika orang merasa dolar lebih aman, maka permintaan dolar meningkat dan rupiah semakin tertekan,” ujarnya.

Wildan menjelaskan, pergerakan nilai tukar mata uang pada dasarnya dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran.

“Meningkatnya permintaan dolar, sementara permintaan terhadap rupiah melemah, membuat kurs rupiah mengalami tekanan,” tegasnya.

Salah satu faktor utama pelemahan rupiah adalah meningkatnya capital outflow atau arus modal keluar dari Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika investor asing memindahkan investasinya ke negara lain yang dianggap lebih aman atau lebih menguntungkan, terutama akibat perubahan kebijakan ekonomi global seperti kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

“Permintaan dolar meningkat karena adanya capital outflow dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi maupun geopolitik dunia,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi global, Wildan menilai kondisi geopolitik internasional juga turut memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

“Konflik antarnegara, ketidakpastian politik global, hingga tensi perdagangan dunia dinilai berdampak terhadap kepercayaan investor pada negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata dia.

Ia menambahkan, kondisi pasar saham domestik juga memengaruhi arus modal asing. Ketika pasar saham mengalami penurunan dan kepercayaan investor melemah, potensi capital outflow akan semakin besar dan berdampak langsung pada pelemahan rupiah.

“Kalau kepercayaan terhadap pasar saham menurun, capital outflow bisa meningkat dan itu memberi tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.

Wildan juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor, baik untuk kebutuhan pangan maupun bahan baku industri. Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak nilai tukar mata uang asing.

Ia mencontohkan sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, terigu, hingga bahan bakar minyak yang masih banyak diimpor. Ketika rupiah melemah, harga bahan baku impor ikut meningkat dan berdampak pada naiknya biaya produksi di dalam negeri.

“Ketergantungan impor kita terhadap kedelai, terigu, hingga bahan baku industri itu tinggi. Ketika rupiah melemah, biaya produksi meningkat dan akhirnya harga barang di masyarakat ikut naik,” ungkapnya.

Sehingga, masih kata Wildan, pelemahan rupiah memang tidak selalu dirasakan secara langsung. Namun secara bertahap kondisi tersebut dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok serta menurunkan daya beli masyarakat.

“Kenaikan harga bahan bakar minyak juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar biaya produksi dan distribusi barang. Pada akhirnya, produsen akan membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen,” ucapnya.

Meski demikian, Wildan menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif stabil dan berbeda dengan krisis moneter tahun 1998. Ia menilai regulasi ekonomi saat ini jauh lebih kuat dan pemerintah masih mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta mengendalikan inflasi.

“Kalau dibandingkan dengan tahun 1998 itu berbeda. Regulasi kita sekarang lebih kuat dan kebutuhan pokok masih bisa dijangkau masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi krisis ekonomi memang selalu ada, tetapi kondisi saat ini masih dalam kategori aman dan terkendali.

Menurutnya, ancaman krisis serius baru akan terasa apabila terjadi kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut disertai inflasi tinggi dan penurunan daya beli masyarakat secara drastis.

“Potensi krisis tentu ada setiap saat, tetapi kondisi sekarang masih relatif aman dan terkendali,” jelasnya.

Maka, pemerintah dinilainya perlu mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan kepercayaan investor. Hal itu dapat dilakukan melalui penguatan sektor keuangan, menjaga stabilitas politik, memperbaiki kepastian hukum, hingga menciptakan iklim investasi yang sehat dan kompetitif.

“Pemerintah harus memiliki langkah yang dianggap kredibel oleh masyarakat dan investor. Kemudahan perizinan, kepastian hukum, dan menjaga capital outflow itu penting untuk memperkuat rupiah,” tegasnya.

Wildan menambahkan, pergerakan dolar Amerika Serikat ke depan masih sangat dipengaruhi kondisi global, termasuk geopolitik internasional, harga minyak dunia, pasar saham, dan tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia.

“Naik turunnya dolar tidak bisa diprediksi secara pasti. Itu tergantung kondisi global dan bagaimana kepercayaan investor terhadap Indonesia,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....