Mahasiswa Relawan Pajak Bantu Wajib Pajak Laporkan SPT
- 23 Apr 2026 14:07 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Program Renjani (Relawan Pajak untuk Negeri) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam meningkatkan kesadaran dan kepatuhan perpajakan di tengah masyarakat. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berkontribusi secara sukarela dalam memberikan edukasi dan pendampingan pelaporan pajak, khususnya saat periode pelaporan SPT Tahunan. Salah satu relawan, Alfion, mahasiswa Ilmu Administrasi Jurusan Perpajakan semester 6 Universitas Brawijaya, mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam program ini juga didukung pengalaman sebelumnya di lingkungan kampus.
“Pengalaman saya di tax centre kampus membuat saya sudah terbiasa dengan proses pelaporan SPT, jadi ketika terjun langsung ke lapangan tidak terlalu kaget,” ujarnya kepada RRI dalam dialog Malang Siang Ini, Kamis (23/4/2026)
Selama menjalankan tugas di Kantor Pelayanan Pajak (KPP), para relawan dihadapkan pada beragam karakter dan kondisi wajib pajak. Alfion menuturkan bahwa setiap kasus memiliki tingkat kompleksitas berbeda, terutama antara wajib pajak pribadi dan badan usaha.
“Kalau wajib pajak pribadi dengan satu bukti potong biasanya lebih sederhana karena datanya sudah prepopulated di sistem Coretax. Tapi untuk badan usaha sering ditemukan laporan yang tidak balance, bahkan minus, sehingga kami sarankan untuk diperbaiki terlebih dahulu,” jelasnya.
Sementara itu, Belva menyoroti kesalahan umum yang sering dilakukan wajib pajak saat mencoba melapor secara mandiri. Menurutnya, kurangnya pemahaman terhadap alur sistem digital menjadi kendala utama.
“Banyak wajib pajak yang sudah membuat konsep SPT dari rumah, tapi mereka langsung memasukkan data bukti potong secara manual. Padahal seharusnya klik ‘posting SPT’ dulu, baru sistem akan menarik data secara otomatis. Di sinilah kami membantu meluruskan,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pada puncak pelaporan di bulan Maret, jumlah wajib pajak yang dilayani bisa mencapai sekitar 400 orang per hari.
Kimi, relawan lainnya, menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang sabar dan humanis dalam mendampingi wajib pajak, terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan sistem digital.
“Kami menjelaskan secara perlahan karena banyak wajib pajak yang masih kesulitan, bahkan ada yang minta dibantu membuat email. Terutama yang sudah berumur, mereka kaget dengan peralihan dari manual ke digital, jadi kami pastikan mereka tidak merasa ditinggalkan,” tuturnya.
Selain memberikan pendampingan teknis, para relawan juga berperan dalam membangun kepercayaan wajib pajak terhadap sistem perpajakan. Kimi mengungkapkan bahwa tidak sedikit masyarakat yang merasa khawatir saat melaporkan harta.
“Banyak yang takut kalau melaporkan harta nanti akan dipanggil atau diperiksa. Padahal kami selalu jelaskan bahwa pajak adalah salah satu sumber utama pendapatan negara yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Kesadaran ini yang terus kami tanamkan,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....