BI Malang Revitalisasi Kebun Kopi Rakyat Lewat Arcofest

  • 30 Okt 2025 19:00 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Di balik gemuruh festival kopi Arcofest 2025 yang akan digelar Bank Indonesia (BI) Malang awal November mendatang, tersimpan pesan penting, memperkuat akar ekonomi kopi rakyat.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Malang, Dedi Prasetyo, mengingatkan bahwa 98,43 persen dari 1,26 juta hektare kebun kopi di Indonesia merupakan milik rakyat sumber utama 99,5 persen produksi kopi nasional.

“Artinya, hampir seluruh kopi Indonesia lahir dari tangan petani kecil Tapi sayangnya, produktivitasnya baru sekitar 0,6 ton per hektare. Angka ini belum tinggi, jadi memang perlu revitalisasi di sektor hulunya,” ujar Dedi dalam Media Briefing Artcofest dan MFW 2025 di Ombe Kofie Araya, Kamis (30/10/2025).

Revitalisasi yang dimaksud, kata Dedi, mencakup perbaikan cara budidaya di kebun rakyat agar hasil panen meningkat dan mutu kopi lebih konsisten. Inilah yang menjadi salah satu fokus Arcofest tahun ini adalah mempertemukan pengetahuan, praktik, dan peluang pasar dalam satu wadah.

“Lewat acara seperti Arcofest, kita ingin memperkuat sisi produksi, bukan hanya hura-huranya kopi di hilir,” ucapnya.

Secara nasional, Dedi mencatat, provinsi dengan lahan kopi terluas adalah Sumatera Selatan (267 ribu hektare), disusul Lampung (152 ribu hektare), Aceh (113 ribu hektare), dan Sumatera Utara (98 ribu hektare). Jawa Timur menempati posisi kelima dengan total 91.309 hektare kebun kopi 75 ribu di antaranya milik rakyat dan 12 ribu milik PTPN.

Namun, dari sisi produksi, posisi Jawa Timur turun ke peringkat keenam, di bawah Bengkulu.

“Luas kebunnya mirip, tapi produksi Bengkulu lebih tinggi. Artinya produktivitas Jatim masih rendah. Ini pekerjaan rumah besar,” kata Dedi.

Meski begitu, ia menilai tren ekspor kopi Indonesia menunjukkan arah positif. Data BI mencatat, dari 2018 hingga 2023 volume ekspor kopi relatif stabil, tetapi nilainya meningkat tajam. Pada 2018, ekspor senilai 815 juta dolar AS dengan volume 279 ribu ton, sementara pada 2023 nilainya naik signifikan meski volumenya hampir sama.

“Kenaikan ini menunjukkan harga kopi global meningkat. Ini peluang besar bagi petani Indonesia untuk masuk pasar ekspor,” jelasnya.

Menariknya, negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia bukan hanya Amerika Serikat atau Italia, melainkan juga Mesir.

“Saya juga baru tahu ternyata Mesir jadi pasar nomor dua setelah Amerika,” ujar Dedi sambil tersenyum.

Tiga negara tujuan ekspor terbesar berikutnya adalah Malaysia, India, dan Italia. Dari sisi jenis, kopi Robusta masih mendominasi volume ekspor, sementara Arabica unggul dari sisi harga.

“Robusta banyak karena memang tanamannya lebih luas di Indonesia, tapi Arabica nilainya lebih tinggi per kilo,” tambah Dedi.

Melalui Arcofest 2025, BI Malang ingin mendorong agar rantai nilai kopi dari kebun hingga cangkir benar-benar terhubung.

“Kopi bukan hanya gaya hidup. Ia ekonomi rakyat, budaya lokal, sekaligus peluang ekspor. Semua itu bisa tumbuh dari Malang,” tutup Dedi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....