Pengrajin Genteng Tradisional Malang Kian Langka
- 22 Jul 2025 19:31 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Keberadaan pengrajin genteng tradisional di Kabupaten Malang kini semakin langka. Persaingan dengan industri modern dan minimnya regenerasi membuat profesi ini terancam punah.
Salah satunya dialami Supardi, pengrajin genteng asal Dusun Gondang, Desa Randuagung, Kecamatan Singosari, yang masih bertahan membuat genteng secara manual bersama istrinya.
"Saya sudah membuat genteng sejak masih muda. Sekarang tinggal empat orang pengrajin di sini, itu pun sudah sepuh semua," ungkapnya, Selasa (22/7/2025).
Supardi menyebut genteng tradisional buatannya, yang dikenal dengan nama genteng mantili, kini kalah bersaing dengan produk pabrikan seperti genteng beton, keramik, dan polycarbonate. Selain harganya lebih murah, produk modern dianggap lebih praktis dan menarik dari sisi desain.
Dalam sehari, Supardi dan istrinya masih mampu memproduksi sekitar 200 genteng. Bahan baku tanah liat didatangkan dari Wendit karena persediaan lokal telah habis. Meski alat-alat produksi sudah lebih modern seperti mesin pres dan penghalus tanah, proses pembakaran tetap dilakukan secara tradisional menggunakan tungku jobong berbahan kayu dan sekam.
Harga genteng yang dijual Supardi berkisar antara Rp 1.200-1.500 per biji. Ia masih memberikan potongan harga untuk warga sekitar, selama biaya pengiriman bisa tertutupi.
Minimnya minat generasi muda menjadi tantangan besar.
"Anak muda sekarang tidak ada yang mau belajar buat genteng. Kalau kami berhenti, bisa jadi tidak ada lagi penerusnya," ujar Supardi, yang kini memiliki satu anak, tiga cucu, dan satu cicit.
Hal serupa disampaikan Suwarlis, warga sekitar, yang menyebut keluarganya dulu juga pengrajin genteng.
"Dulu kakak saya membuat genteng selama puluhan tahun. Tapi sekarang sudah berhenti karena tidak kuat bersaing dengan industri modern," katanya.
Genteng tradisional yang dulu menjadi tumpuan pembangunan rumah warga, kini hanya tinggal sejarah bagi banyak desa di Kabupaten Malang. Tanpa dukungan dan perhatian khusus, pengrajin genteng seperti Supardi bisa jadi generasi terakhir dari profesi ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....