Aksara Jawa: Sejarah dan Perkembangannya
- 14 Jan 2025 09:41 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Aksara adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan bahasa dan sastra, setiap daerah memiliki aksara khas. Hal ini diungkapkan Hendrik Khoirul, perwakilan Pawiyatan Aksara Singosari, dalam acara Suara Budaya Nusantara yang digelar oleh Pro 4 Malang dan Pro 4 Jakarta, Senin (13/1/2025) siang.
“Aksara adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan bahasa dan sastra. Makna aksara Jawa sendiri adalah ‘tidak akan mati.’ Aksara Jawa juga merupakan huruf kuno yang dipahat dan ditulis dalam prasasti pada era kerajaan, seperti prasasti Upala, Tamra, dan Ripta,” jelas Hendrik.
Saat ditanya apakah aksara Jawa berasal dari bahasa Sanskerta, Hendrik menjelaskan bahwa aksara Jawa memang berasal dari rumpun aksara Brahmi.
“Aksara Jawa merupakan turunan dari aksara Brahmi yang diciptakan oleh Mpu Panini sekitar abad ke-5 SM. Aksara Brahmi kemudian berkembang menjadi aksara Pallawa, yang masuk ke Nusantara dan ditulis pada prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan, sekitar abad ke-4 Masehi," terangnya.
" Pada abad ke-6 hingga ke-7, aksara Pallawa berkembang menjadi aksara Jawa Kawi, yang ditulis pada prasasti Plumpungan di Salatiga, Jawa Tengah, tahun 750 Masehi. Aksara Jawa Kawi juga tercatat dalam prasasti Dinoyo di Malang, tahun 762 Masehi,” sambung Hendrik.
Hendrik juga menambahkan aksara Jawa Kawi berbeda dengan aksara Hanacaraka.
“Aksara Jawa Kawi memiliki lebih banyak huruf, mencapai 50 jenis, dengan bentuk lebih pendek. Sedangkan aksara Hanacaraka mengalami penyederhanaan sehingga jumlah hurufnya lebih sedikit. Filosofi dan makna aksara Hanacaraka juga berbeda di setiap paguyuban, karena setiap komunitas memiliki literasi yang unik,” jelasnya.
Sebagai penutup, Hendrik menegaskan bahwa seluruh aksara di Nusantara berakar dari aksara Jawa Kuno. Setelah menyebar, aksara-aksara ini mengalami penyederhanaan sesuai karakteristik masing-masing daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....