Rebo Wekasan dan Mitos Bala dalam Islam
- 08 Agt 2025 18:49 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Program Mutiara Pagi yang ditayangkan Rabu (6/8/2025) di Pro 1 RRI Malang mengangkat pembahasan seputar Rebo Wekasan bersama Ustadz Drs. H. Moh. Rosyad, M.Si. Dalam kajian ini, beliau mengajak pendengar untuk menelaah kembali tradisi yang sudah lama hidup di tengah masyarakat, yakni keyakinan akan turunnya bencana di Rabu terakhir bulan Safar. Meski tradisi ini sudah membudaya, penting untuk tetap berpijak pada ajaran Islam yang murni dan bersumber dari tuntunan Rasulullah SAW.
Ustadz Rosyad menjelaskan bahwa sebagian masyarakat meyakini Rabu Wekasan sebagai hari diturunkannya ribuan bencana, bahkan disebutkan jumlahnya bisa mencapai 320 ribu bala. Karena itulah, sebagian warga melakukan ritual penolak bala, seperti doa bersama, sedekah, dan berbagai amalan lainnya. “Keyakinan itu berasal dari pengaruh tradisi lama, bahkan sebelum Islam datang. Tapi Rasulullah telah meluruskan pemahaman itu,” ujar Rosyad.
Dalam sejarahnya, masyarakat Arab pra-Islam pun memiliki keyakinan serupa tentang bulan Safar sebagai bulan kesialan. Namun Rasulullah SAW justru mencontohkan tindakan sebaliknya. Beliau menikahi Siti Khadijah dan menikahkan putrinya dengan Sayyidina Ali di bulan Safar, untuk menunjukkan bahwa bulan tersebut tidak membawa kesialan apa pun. “Semua kejadian di muka bumi ini terjadi karena kehendak Allah, bukan karena waktu, hari, atau bulan tertentu,” tegas Rosyad.
Ustadz Rosyad juga mengutip sabda Nabi, laa safar, yang artinya tidak ada kesialan dalam bulan Safar. Ia mengingatkan bahwa keyakinan terhadap tanda-tanda buruk seperti burung hantu atau hari tertentu adalah bentuk ketergantungan kepada sesuatu selain Allah SWT. Dalam konteks ini, penting bagi umat Islam untuk memperkuat tauhid dan tidak meyakini adanya kekuatan lain di luar ketetapan Allah. Menurutnya, semua peristiwa, baik maupun buruk, adalah bagian dari kehendak-Nya.
Meskipun demikian, Ustadz Rosyad tidak menafikan bahwa melakukan amalan seperti sedekah, sholat hajat, atau dzikir pada hari Rabu terakhir di bulan Safar tetap baik, selama tidak diyakini bahwa hal tersebut semata-mata untuk menolak bala karena hari tersebut. “Semua bentuk ikhtiar, termasuk sholat dan sedekah, harus dilandasi niat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan karena takut terhadap mitos,” pungkasnya.