Festival Ngoyek Lontong Sukolilo Jadi Ajang Pelestarian Budaya Desa

  • 08 Sep 2026 11:49 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Tradisi budaya lokal kembali dihidupkan melalui Festival Ngoyek Lontong Sukolilo yang digelar di depan Balai Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, pada 6–7 September 2026. Festival yang mengusung tema nostalgia tradisi dan kebersamaan ini menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan pelaku UMKM lokal.

Berbagai kegiatan disuguhkan dalam festival tersebut, mulai dari panggung hiburan, stand UMKM produk lokal dan kuliner, pasar tempo doeloe, permainan tradisional, kuliner jadul hingga spot foto bernuansa masa lampau. Puncak acara berlangsung pada Senin (7/9/2026) malam dengan penampilan campursari yang menghadirkan penyanyi muda Silvy Kumala Sari sebagai bintang utama.

Ketua Panitia Festival Ngoyek Lontong Sukolilo, Rohmatullah, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai upaya mengenalkan kembali tradisi ngoyek lontong kepada generasi muda yang mulai asing dengan budaya lokal.

"Tujuan utama festival ini untuk mengenalkan kembali tradisi ngoyek lontong kepada anak-anak muda. Kami ingin budaya lama tetap berkembang dan tidak ditinggalkan oleh generasi sekarang," ujarnya.

Menurut Rohmatullah, tema kebersamaan dan nostalgia tradisi dipilih untuk mengajak masyarakat mengenang nilai-nilai kehidupan masa lalu yang sarat gotong royong, kepedulian lingkungan, serta semangat nasionalisme.

RRI berkesempatan wawancara dengan Ketua Panitia Festival Ngoyek Lontong Sukolilo 2026, Rohmatullah (sebelah kanan) didepan salah satu stand UMKM bertema Malang Tempo Doeloe menjajakan aneka kuliner tradisional pada Festival Ngoyek Lontong Sukolilo di Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. (Foto: RRI/.Iyan Taufiq)

Ia menjelaskan, rangkaian festival juga diisi berbagai lomba antar-RT yang menitikberatkan pada kebersihan lingkungan, rumah sehat, serta pemasangan bendera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan bangsa.

Berbeda dengan sejumlah perayaan yang identik dengan hiburan sound horeg, Festival Ngoyek Lontong Sukolilo justru mengedepankan unsur budaya lokal. Menurut Rohmatullah, konsep tersebut dipilih agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memahami dan melestarikan warisan budaya desa.

"Kami ingin menghadirkan kemeriahan yang memiliki pesan. Budaya seperti ngoyek lontong harus terus dikenalkan agar bisa diteruskan oleh anak cucu kita nanti," katanya.

Festival yang dipersiapkan selama sekitar satu bulan tersebut juga tidak membebani masyarakat. Seluruh pembiayaan didukung oleh para pelaku usaha yang berada di Desa Sukolilo tanpa adanya iuran dari warga.

Selain itu, puluhan stand UMKM turut meramaikan kegiatan dengan konsep budaya dan tempo doeloe. Kehadiran para pelaku usaha lokal menjadi bagian dari upaya menggerakkan perekonomian masyarakat desa.

Ketua Panitia Festival Ngoyek Lontong Sukolilo, Rohmatullah beserta Kepala Desa Sukolilo, Joni Arifin, S.M berfoto bersama warga Sukolilo sesaat setelah memberikan keterangan kepada RRI terkait upaya pelestarian budaya lokal melalui festival yang melibatkan masyarakat dan pelaku UMKM desa. (Foto: RRI/.Iyan Taufiq)

Sementara itu, Kepala Desa Sukolilo, Joni Arifin, S.M., menilai festival tersebut mampu mengarahkan masyarakat kepada kegiatan yang lebih positif dan produktif.

"Biasanya masyarakat disuguhi hiburan yang sifatnya hura-hura. Melalui kegiatan ini kami ingin mengalihkan perhatian masyarakat ke kegiatan yang membangun, seperti pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan melalui PKK, serta penguatan ketahanan pangan keluarga," ungkapnya.

Joni berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan mengangkat berbagai potensi unggulan Desa Sukolilo, seperti produk rumput taman, kerajinan lokal, gula merah, grinting, hingga samiler. Menurutnya, festival budaya juga dapat mendukung pengembangan wisata desa dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata yang dimiliki.

Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang memadati lokasi acara. Salah satunya Ria, seorang pelajar asal Kabupaten Malang.

"Acaranya seru dan tidak membosankan. Banyak jajanan tempo dulu yang menarik. Saya juga menunggu penampilan Silvy Kumala Sari pada malam puncak acara," katanya.

Ria berharap Festival Ngoyek Lontong dapat kembali digelar pada tahun mendatang karena dinilai lebih menarik dibandingkan hiburan yang hanya menampilkan sound horeg.

Dampak positif festival juga dirasakan para pelaku UMKM. Mitha, perwakilan stand RT 19 Desa Sukolilo, mengaku penjualan dagangannya meningkat selama acara berlangsung.

Peserta Paduan Suara perwakilan RT 19 RW 09 Desa Sukolilo berfoto bersama Ketua RT 19 di depan Stand UMKM RT 19 pada Festival Ngoyek Lontong Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Senin (7/9/2026). Kehadiran paduan suara dan stand UMKM menjadi wujud partisipasi warga dalam mendukung pelestarian budaya lokal serta pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. (Foto: RRI/.Iyan Taufiq)

Pada stand bertema Malang Tempo Doeloe tersebut, ia menjual berbagai makanan tradisional seperti lepet, lontong, asinan buah, keripik puli, buah segar, dan cilok.

"Kami berharap acara seperti ini terus ada karena bagus untuk anak muda agar tidak melupakan budaya. Selain itu UMKM juga sangat terbantu. Alhamdulillah jualan kami laris manis," ujarnya.

Melalui Festival Ngoyek Lontong Sukolilo, masyarakat tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga diajak mengenal kembali tradisi lokal, memperkuat kebersamaan warga, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM desa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....