Joko Setiono: Merdeka dari “Penjajahan” Media Sosial dan Tren
- 19 Agt 2026 15:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di era ketika media sosial mampu menentukan apa yang dianggap menarik, viral, keren, bahkan layak diikuti, pertanyaan tentang makna kemerdekaan menjadi semakin relevan. Sebab, secara politik manusia mungkin telah hidup di negara merdeka, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit yang justru merasa harus mengikuti tren dan standar yang ditentukan orang lain.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Pesona Budaya Pro 1 RRI Malang bersama H. Joko Setiono, ST, MMT, dalam refleksi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bertema “Manusia Merdeka”.
Menanggapi keresahan pendengar mengenai pengaruh media sosial, tren, dan keinginan untuk selalu mengikuti kehidupan orang lain, Joko mengingatkan bahwa salah satu bentuk kehilangan kemerdekaan adalah ketika manusia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya.
Menurutnya, manusia dapat kehilangan kebebasan ketika terlalu mudah terpengaruh oleh informasi, gaya hidup, maupun kecenderungan yang berkembang di lingkungan.
“Kontrolnya itu mempunyai kemampuan untuk mengendalikan diri tanpa ada jajahan orang lain, informasi lain, langkah lain, dan juga dijajah oleh dirinya sendiri,” ujar Joko, Selasa (18/8/2026).
Ia menilai fenomena latah terhadap tren menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat saat ini. Apa yang datang dari luar sering kali langsung diterima dan ditiru tanpa melalui proses berpikir dan pengkajian yang matang.
Padahal, menurut Joko, sebuah kebudayaan lahir melalui proses panjang. Ia memaknai budaya sebagai perpaduan antara budi dan daya, atau proses pikir, perenungan, dan ikhtiar yang kemudian melahirkan sebuah karya.
Karena itu, menerima pengaruh dari luar sebenarnya bukan sesuatu yang harus selalu ditolak. Namun masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaringnya.
Joko menggambarkan setidaknya ada beberapa sikap dalam menerima perkembangan zaman. Ada yang sekadar mengikuti tampilan luarnya, ada yang menerima seluruhnya tanpa pertimbangan, dan ada pula yang mengkajinya terlebih dahulu hingga kemudian mampu melahirkan inovasi.
Sikap terakhir, menurutnya, menjadi bentuk kemerdekaan berpikir yang lebih penting.
“Kalau dari kajian, mungkin lahir inovasi,” katanya.
Ia mencontohkan perkembangan seni dan budaya yang mampu bertahan karena terus mengalami proses kreativitas. Tradisi tidak selalu harus ditinggalkan ketika zaman berubah. Sebaliknya, nilai budaya dapat dikembangkan dan dikreasikan agar tetap relevan tanpa kehilangan akar identitasnya.
Hal itu, menurut Joko, berbeda dengan tren yang hanya bertahan karena kebutuhan sesaat. Apa yang hari ini viral belum tentu memiliki makna dan daya tahan dalam jangka panjang.
Karena itu, kemerdekaan di era digital juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tidak mudah kehilangan jati diri. Manusia harus mampu menentukan apa yang benar-benar sesuai dengan nilai dan kebutuhannya, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai.
Dalam diskusi tersebut, Joko juga menyinggung keberanian untuk berbeda. Baginya, manusia merdeka harus berani menyampaikan pendapat atau prinsip yang berbeda, tetapi keberanian tersebut harus dibangun dengan argumentasi dan dasar yang kuat.
Berbeda pendapat bukan berarti asal berbicara. Kebebasan justru harus berjalan bersama tanggung jawab.
“Beranikah kita di zaman sekarang bersuara bila beda? Kemudian siapkah kita berbeda prinsip dengan yang lain dengan segala argumen, tidak hanya berbeda,” katanya.
Selain keberanian menyampaikan pendapat, ia juga menekankan pentingnya kemandirian. Seseorang tidak seharusnya selalu bergantung pada penilaian maupun arah yang diberikan orang lain.
Namun, kemandirian itu tetap harus didasarkan pada fakta, akal, dan toleransi terhadap lingkungan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah derasnya arus informasi saat ini. Kemerdekaan bukan hanya soal memiliki akses untuk berbicara, memilih, atau mengikuti apa saja. Lebih dari itu, manusia harus memiliki kemampuan untuk menentukan sikapnya sendiri secara sadar.
Dalam refleksi HUT ke-81 RI, Joko mengajak masyarakat untuk tidak hanya merayakan kemerdekaan secara seremonial, tetapi juga membangun kemerdekaan dalam diri.
Merdeka dari rasa takut berlebihan terhadap penilaian orang lain, merdeka dari dorongan untuk selalu mengikuti tren, merdeka dari informasi yang belum tentu benar, dan merdeka dari nafsu untuk memiliki segala sesuatu yang dimiliki orang lain.
Sebab, di tengah dunia yang semakin ramai dan cepat berubah, menjaga kemampuan untuk berpikir, memilih, dan tetap memiliki identitas mungkin menjadi salah satu bentuk kemerdekaan yang paling penting.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....