Joko Setiono: Manusia Merdeka Harus Mampu Mengendalikan Diri
- 19 Agt 2026 15:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak cukup hanya dimaknai sebagai perayaan tahunan melalui upacara, lomba, dan berbagai kegiatan hiburan. Lebih jauh dari itu, kemerdekaan juga perlu menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana manusia telah benar-benar merdeka dalam menjalani kehidupannya.
Refleksi tersebut mengemuka dalam program Pesona Budaya Pro 1 RRI Malang bertajuk “Manusia Merdeka”, bersama narasumber H. Joko Setiono, ST, MMT. Menurutnya, manusia yang merdeka bukan sekadar manusia yang hidup di negara bebas atau memiliki kebebasan melakukan apa saja.
“Manusia merdeka itu cirinya adalah manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengendalikan diri tanpa terjajah oleh orang lain, lingkungan, maupun terjajah oleh dirinya sendiri,” ujar Joko, Selasa (18/8/2026).
Menurut Joko, kemerdekaan manusia setidaknya dapat dilihat melalui tiga aspek utama. Pertama adalah merdeka dalam pikiran dan akal. Manusia harus mampu menggunakan daya pikirnya secara jernih, jujur, dan bertanggung jawab. Kemerdekaan berpikir, kata dia, bukan berarti bebas berbicara tanpa dasar, melainkan keberanian memiliki pendirian yang dibangun melalui pertimbangan dan kesadaran.
Dalam filosofi Jawa, ia mengaitkan hal tersebut dengan prinsip bisa rumongso, ojo rumongso bisa. Artinya, seseorang seharusnya mampu memahami dan menyadari dirinya sendiri, bukan justru merasa paling mampu tanpa memahami posisi dan keterbatasannya.
“Orang harus mampu melihat dirinya sendiri. Apakah aku ini pantas? Apakah aku ini layak? Apakah tindakan, ucapan, dan ilmu yang aku miliki sudah benar-benar tepat?” katanya.
Aspek kedua adalah kemerdekaan batin dan jiwa. Menurut Joko, seseorang yang secara lahiriah bebas belum tentu memiliki jiwa yang merdeka. Banyak manusia justru masih menjadi “budak” dari keinginannya sendiri, nafsu, ambisi, rasa iri, maupun dorongan untuk selalu memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat seseorang kehilangan rasa cukup. Ketika keinginan telah menguasai diri, seseorang berpotensi mengabaikan etika, sopan santun, bahkan nilai-nilai kemanusiaan demi memenuhi hasratnya.
“Rasa cukup itu penting. Orang yang tidak pandai bersyukur dan tidak mau mengkaji apa yang sudah dimilikinya akan terus dikuasai rasa ingin yang luar biasa,” ujarnya.
Sementara aspek ketiga adalah kemampuan untuk mengamalkan nilai kemerdekaan dalam hubungan dengan sesama. Joko mengaitkannya dengan filosofi memayu hayuning sesami, yakni upaya memperindah, menjaga, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan bersama.
Menurutnya, kemerdekaan tidak berhenti pada diri sendiri. Setelah seseorang mampu membangun pikiran dan batinnya, ia harus mampu menghadirkan manfaat bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, hingga bangsa.
Dalam kehidupan Indonesia yang beragam, nilai tersebut menjadi semakin penting. Perbedaan suku, pandangan, budaya, dan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menindas.
“Intinya adalah saling menghormati, toleransi, dan gotong royong. Semua persoalan yang muncul di lingkungan dan Nusantara ini sering kali bisa dikalahkan oleh rasa gotong royong,” katanya.
Joko menilai peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah manusia Indonesia hari ini sudah benar-benar merdeka dari rasa takut, kesombongan, nafsu, dan ketergantungan terhadap penilaian orang lain?
Sebab, menurutnya, kemerdekaan sejati tidak hanya ditandai oleh bebasnya sebuah bangsa dari penjajahan fisik. Kemerdekaan juga harus hadir dalam pikiran, batin, dan tindakan manusia.
Dengan demikian, HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan hanya perayaan usia sebuah negara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk terus membangun manusia Indonesia yang mampu berpikir merdeka, berjiwa tenang, memiliki tanggung jawab, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....