Urban Slow Observation Bahas Pelecehan Verbal Barista Perempuan di Malang

  • 13 Agt 2026 11:46 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Malang Offboundary Labs bersama Ruang Bertumbuh melalui program Ngalam Punya Cerita menggelar diskusi yang membahas fenomena pelecehan verbal terhadap barista perempuan di sejumlah kedai kopi di Kota Malang. Pembahasan ini berangkat dari catatan observasi keseharian melalui pendekatan Urban Slow Observation. Temuan tersebut tidak dimaksudkan sebagai penelitian survei, tetapi menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan pekerja, gender, dan budaya nongkrong dari berbagai sudut pandang.

Diskusi menghadirkan Dewi Arum Nawang Wungu dari Ruang Bertumbuh, sejarawan FX Domini BB Hera, serta budayawan Aji Prasetyo dengan Pras sebagai moderator. Pembahasan menyoroti bagaimana kedai kopi saat ini tidak hanya menjadi ruang publik untuk berkumpul, tetapi juga tempat kerja bagi banyak orang. Karena itu, persoalan pelecehan verbal terhadap pekerja perlu dilihat sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang aman dan tetap menghargai martabat pekerja.

Dari perspektif ketenagakerjaan, persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena banyak pekerja berada di sektor informal yang memiliki mekanisme perlindungan kerja lebih terbatas. Data ILO dalam survei kekerasan dan pelecehan di dunia kerja di Indonesia menunjukkan 70,93 persen responden pernah mengalami atau menjadi korban kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. Sementara itu, BPS mencatat jumlah pekerja informal Indonesia mencapai 87,74 juta orang pada Februari 2026. Angka tersebut memang tidak secara khusus menggambarkan kondisi barista di Malang, tetapi menunjukkan bahwa keamanan dan martabat pekerja masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Pembahasan kemudian diperluas melalui perspektif sejarah dan budaya kopi. FX Domini BB Hera mengajak peserta membayangkan kembali bagaimana organisasi perempuan pada masa lalu memperjuangkan persoalan kerja dan kesetaraan perempuan. Sementara itu, Aji Prasetyo melihat kopi sebagai bagian dari budaya berkumpul di Malang, bukan sekadar komoditas atau minuman. Apalagi Malang berada dekat dengan wilayah penghasil kopi seperti Dampit yang pada 2025 mencatat produksi sekitar 2.848 ton. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kedai kopi dan UMKM perkopian juga berkaitan dengan rantai ekonomi yang melibatkan petani, pengolah, roastery, barista, pemilik usaha hingga konsumen.

Melalui diskusi ini, Urban Slow Observation mengajak masyarakat melihat kembali ruang kopi dari pertanyaan yang lebih luas: seperti apa ruang kerja yang ingin dibangun bersama melalui budaya ngopi yang terus berkembang? Jika kopi menjadi medium untuk bertemu dan berinteraksi, kedai kopi seharusnya juga menjadi ruang yang membuat pekerjanya merasa aman, dihargai, dan memiliki martabat. Pendekatan Urban Slow Observation pun menjadi cara untuk membaca berbagai persoalan kota secara lebih perlahan, dengan menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai pintu masuk untuk membicarakan isu kerja, gender, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....