Ruwatan Jadi Sarana Pendidikan Karakter di tengah "Badai" Informasi
- 28 Jun 2026 12:41 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Ruwatan bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter yang relevan di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi. Hal tersebut disampaikan budayawan Malang, Joko Setiono, S.T., M.MT., dalam Obrolan Pesona Budaya RRI Malang bertajuk Ruwat di Antara Badai.
Menurut Joko, makna ruwatan adalah melebur atau membersihkan hal-hal yang dianggap "sukerta" atau kurang baik dalam diri manusia agar dapat tumbuh kembali menjadi pribadi yang lebih baik.
"Ruwat itu melebur sesuatu untuk difungsikan kembali, untuk tumbuh kembali, hingga muncul sinergi yang baru," ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, kata "badai" dalam tema tersebut tidak hanya dimaknai sebagai bencana alam, melainkan juga badai informasi yang muncul melalui berbagai media. Mulai dari media sosial, WhatsApp, YouTube hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai informasi yang simpang siur, mulai dari kabar bohong, fitnah hingga visualisasi berbasis AI yang mampu memanipulasi gambar maupun suara seseorang. Karena itu, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang benar agar tidak mudah terpengaruh.
Meski demikian, Joko menilai perkembangan teknologi tidak perlu ditolak, melainkan harus disikapi secara bijak. Ia menegaskan, tujuan ruwatan bukan untuk memaksakan suatu pandangan, tetapi memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui pendekatan budaya.
"Pagelaran ruwatan yang diselenggarakan RRI Malang selama ini terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur," katanya.
Menurutnya, pagelaran wayang memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai tontonan, tuntunan, dan tatanan. Ketiganya saling melengkapi sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga pelajaran hidup dan pembentukan karakter.
"Wayang itu bukan sekadar tontonan. Di dalamnya ada tuntunan dan tatanan. Dari cerita-ceritanya, penonton diajak mengenali sisi baik dan buruk dalam dirinya sendiri sehingga dapat membangun karakter yang lebih baik," katanya.
Ia menambahkan, melalui cerita wayang seseorang diajak melakukan refleksi diri. Tokoh-tokoh dalam pewayangan menggambarkan sifat angkara murka maupun kesatria yang pada dasarnya juga dimiliki setiap manusia.
Karena itu, Joko berharap tradisi ruwatan tetap dilestarikan dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami generasi muda, tanpa menghilangkan nilai-nilai filosofis yang menjadi ruh dari budaya tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....