Bulan Suro Jadi Momentum Refleksi Spiritual Masyarakat Jawa Tradisional
- 23 Jun 2026 17:51 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bulan Suro memiliki kedudukan yang istimewa dan penuh makna spiritual bagi masyarakat Jawa. Sebagai bulan pertama dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah, Suro sejak lama dipandang sebagai waktu yang sakral. Karena itu, berbagai tradisi, ritual, dan laku spiritual masih dijalankan masyarakat untuk menyambut datangnya bulan tersebut.
Ketua Umum Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, mengatakan kesakralan Bulan Suro tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga merupakan perpaduan antara nilai budaya, sejarah, dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. “Bulan Suro memiliki kedudukan yang istimewa dan penuh makna spiritual. Sejak dahulu, Suro dipandang sebagai waktu yang sakral sehingga banyak masyarakat Jawa menjalankan berbagai tradisi, ritual, dan laku spiritual untuk menyambutnya,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Menurut Ki Bagong, penanggalan Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil perpaduan antara kalender Hindu-Jawa dan kalender Islam yang disusun pada masa pemerintahan Sultan Agung. Dalam sistem tersebut, bulan Muharram diadaptasi menjadi Bulan Suro. “Kata Suro diyakini berasal dari kata Arab Asyura yang merujuk pada tanggal 10 Muharram. Nilai kesucian bulan Muharram kemudian berakulturasi dengan budaya Jawa dan melahirkan berbagai tradisi khas masyarakat Jawa,” jelasnya.
Ia menambahkan, Bulan Suro juga menjadi penanda pergantian tahun Jawa yang dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan introspeksi diri. Momentum ini digunakan untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan dengan sesama maupun dengan Tuhan, serta menata kehidupan yang lebih baik pada tahun yang baru. Tradisi tersebut menjadikan Bulan Suro sebagai waktu yang sarat dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan pengendalian diri.
Dalam tradisi Jawa, Bulan Suro identik dengan tirakat atau laku spiritual sebagai bentuk pendekatan kepada Sang Pencipta. Banyak masyarakat menjalankan puasa, semedi, doa, zikir, dan berbagai kegiatan spiritual lainnya. “Masyarakat percaya suasana spiritual pada Bulan Suro lebih kuat dibandingkan bulan-bulan lainnya, sehingga cocok digunakan untuk memperdalam batin dan meningkatkan kualitas diri,” pungkas Ki Bagong.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....