Tradisi Memetri Jaga Jejak Sejarah Leluhur, Dari Panawidyan hingga Polowijen
- 23 Jun 2026 02:33 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tradisi Memetri atau Barikan yang digelar masyarakat Kelurahan Polowijen, Minggu, 21 Juni 2026, tidak hanya menjadi penanda dimulainya Bersih Desa 2026, tetapi juga mengingatkan kembali panjangnya sejarah kawasan Polowijen yang telah tercatat sejak abad ke-10 Masehi.
Prosesi yang berlangsung di Situs Joko Lolo, kawasan Makam Polowijen, diikuti sekitar 300 warga. Masyarakat membawa aneka hidangan tradisional untuk didoakan bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Tokoh masyarakat Polowijen, Effendi, SH, menjelaskan bahwa wilayah Polowijen memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Nama Desa Panawidyan pertama kali tercatat dalam Prasasti Wurandungan Kanjuruhan B yang berangka tahun 865 Saka atau 943 Masehi pada masa pemerintahan Raja Mpu Sindok.
"Prasasti tersebut menyebut Panawijyan atau Panawidyan sebagai wilayah sima atau desa perdikan, yakni wilayah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak karena memiliki tugas khusus merawat bangunan suci atau mandala," jelas Effendi di sela acara, Minggu 21 Juni 2026..
Menurutnya, status sima tersebut diberikan karena masyarakat Panawidyan dinilai memiliki kemampuan ekonomi yang baik dan mampu membiayai kebutuhan mandala secara mandiri.
"Sebelum memperoleh status sima, masyarakat diwajibkan memberikan upeti berupa kerbau, ayam, perak, dan kebutuhan lainnya. Setelah ditetapkan sebagai daerah sima, kewajiban itu dibebaskan," katanya.
Effendi menegaskan, tradisi Memetri dan Barikan yang masih dilestarikan hingga saat ini merupakan warisan budaya turun-temurun yang memiliki nilai sejarah tinggi.
"Tradisi ini sudah dilakukan sejak lama sebagai tanda dimulainya Bersih Desa. Dulu dilaksanakan pada Jumat Legi, tetapi sekarang disesuaikan pada hari Minggu agar lebih banyak masyarakat dapat ikut berpartisipasi," ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Polowijen sekaligus Anggota DPRD Kota Malang, Eddy Wijanarko menilai pelestarian tradisi menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat.
"Melalui tradisi seperti ini, masyarakat tidak hanya bersyukur kepada Tuhan, tetapi juga menjaga hubungan dengan sejarah dan warisan leluhur yang telah membentuk Polowijen hingga saat ini," kata Eddy.
Tradisi Memetri di Petren Situs Joko Lolo menjadi bagian awal dari rangkaian Bersih Desa Kelurahan Polowijen Tahun 2026. Kegiatan berikutnya akan dilanjutkan dengan Kirab Budaya dan Karnaval pada 28 Juni 2026, hiburan kesenian dan campursari pada 4 Juli 2026, serta pengajian umum pada 5 Juli 2026.
Masyarakat berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat memperkuat persatuan, semangat gotong royong, serta mendorong pembangunan Polowijen yang lebih maju tanpa meninggalkan akar budaya dan sejarahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....