Budaya Viral Ancam Nalar Kritis, Pengamat Media Ingatkan Bahaya Cancel Culture
- 03 Jun 2026 15:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Budaya viral kini semakin mempengaruhi pola respons sosial masyarakat. Viralitas di media sosial dinilai mulai mengubah cara masyarakat mencari keadilan dan membentuk respons sosial. Kondisi ini berbahaya bagi pembentukan karakter generasi muda.
“Kalau tidak viral, sering kali tidak dianggap penting. Itu yang menjadi kemirisan kita sekarang,” kata Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya, Arif Budi Prasetya, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia mencontohkan fenomena “no viral no justice” menjadi salah satu dampak serius perkembangan media sosial di Indonesia.
Menurutnya, media sosial kini juga melahirkan budaya cancel culture hingga perundungan massal yang dilakukan netizen terhadap seseorang atau kelompok tertentu.
“Ketika sesuatu viral, respons masyarakat bisa luar biasa, bahkan sampai bullying massal,” ujarnya.
Arif mengatakan generasi muda saat ini hidup dalam sistem digital yang membuat validasi sosial semakin bergantung pada perhatian publik di media sosial.
“Kita hidup dalam budaya yang mengejar viralitas, validasi sosial, sampai flexing,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit berpikir kritis karena terbiasa mengonsumsi informasi singkat dan instan.
“Tantangan terbesar sekarang adalah banjir informasi tapi kemampuan berpikir kritis justru menurun,” terang Arif.
Selain itu, Arif juga menyoroti ancaman cyber bullying terhadap anak-anak dan remaja yang kini semakin mudah terjadi di ruang digital pribadi, yang bahkan orang tua sering tidak tahu apa yang terjadi kepada anaknya di media sosial.
Menurutnya, perlindungan terhadap generasi muda tidak cukup hanya dengan pembatasan penggunaan gadget, tetapi juga perlu penguatan etika dan norma digital di lingkungan keluarga.
“Etika dan norma harus tetap menjadi benteng utama meski mereka hidup di era digital,” ujarnya.
Arif mengingatkan teknologi seharusnya menjadi alat untuk mempermudah kehidupan manusia, bukan justru membentuk manusia kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri.
“Teknologi itu alat bantu. Yang harus tetap memegang kendali adalah manusianya,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....