Mafindo: Fenomena FOMO hingga Phubbing Mengancam Relasi Sosial

  • 03 Jun 2026 15:11 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Fenomena FOMO (fear of missing out), kecanduan gadget hingga hilangnya privasi menjadi tantangan besar generasi muda di era digital. Perubahan pola komunikasi generasi muda di era digital kini semakin sensitif terhadap isu privasi dan kesehatan sosial.

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Mafindo Malang meminta orang tua mulai memahami pola komunikasi anak-anak zaman sekarang agar tidak terjadi benturan dalam kehidupan sosial maupun keluarga.

Pengurus DPW Mafindo Malang, Anak Agung Ayu Mira mengatakan generasi saat ini menghadapi tantangan baru seperti FOMO, phubbing hingga kecemasan privasi.

“Sekarang anak-anak muda itu lebih menjaga privasi mereka. Bahkan cara posting di media sosial pun berbeda,” kata kepada RRI Malang, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Mira, generasi muda saat ini cenderung tidak terlalu menampilkan identitas lengkap di media sosial. Mereka lebih memilih menampilkan sisi hobi atau aktivitas tertentu dibanding foto diri secara penuh.

“Misalnya yang diunggah cuma sepatu, jam tangan, atau sebagian wajah saja. Mereka ingin menjaga privasi dan membangun identitas sendiri,” ujarnya.

Karena itu, Mira meminta para orang tua mulai memahami kebutuhan ruang privasi anak di era digital.

“Kadang orang tua memotret anak lalu diunggah tanpa izin. Padahal bagi anak sekarang itu bisa dianggap mengganggu privasi mereka,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena phubbing yang dilkaukan sebagian besar orang yang memiliki Gadget. Phubbing adalah kebiasaan terlalu fokus pada ponsel hingga mengabaikan lingkungan sosial sekitar.

“Mereka terlalu fokus pada perangkat digital sehingga hubungan sosial sehari-hari jadi terganggu,” ujarnya.

Sebagai solusi, Mafindo mendorong masyarakat mulai menerapkan etika penggunaan gadget di lingkungan keluarga.

“Kalau sedang kumpul keluarga, harus buat aturan, handphone bisa disimpan dulu atau minimal layarnya dibalik supaya tidak tergoda melihat notifikasi,” imbuh Mira.

Ia juga menyarankan masyarakat mengatur waktu penggunaan media sosial agar tidak berlebihan. Saat ini sudah ada fitur pembatasan akses media sosial di ponsel yang dapat dimanfaatkan.

Mira menegaskan edukasi etika digital harus terus diperluas karena tantangan dunia digital tidak hanya berdampak pada anak muda, tetapi seluruh generasi.

“Media sosial harus menjadi ruang yang inklusif, tidak penuh bullying, diskriminasi maupun konten manipulatif,” tuturnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....