Wayang Mini Kontemporer Cak Penthol Tarik Minat Anak Muda Belajar Budaya Jawa

  • 03 Jun 2026 11:48 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID,Malang – Pendekatan yang lebih santai dan adaptif menjadi salah satu cara efektif untuk mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda. Hal itu dilakukan oleh Siswanto Galuh Aji atau Cak Penthol, penyiar Pro 4 RRI Malang sekaligus Pemangku Sanggar Budaya Sangguran, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, melalui program Warung Lapis Prapatan.

Berbeda dengan pertunjukan wayang konvensional, Cak Penthol menghadirkan konsep wayang kontemporer dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami berbagai kalangan.

"Wayang yang saya sajikan lebih ke wayang kontemporer. Tujuannya supaya mereka tidak ragu-ragu dan tidak takut untuk belajar memainkan wayang. Bahasanya juga lebih disederhanakan dengan menggunakan campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia," jelasnya kepada RRI, Selasa (2/6/2026).

Dalam setiap pertunjukan, tokoh Punakawan tampil dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan bahasa Jawa baku, bahasa Malangan, hingga bahasa campuran yang dibawakan tokoh Bagong.

"Ada yang pakai bahasa baku, bahasa Malangan, dan ada juga tokoh Bagong yang saya namakan I Haho. Kadang bahasanya gado-gado, kadang juga sedikit keminggris supaya bisa menarik minat dari berbagai kalangan," ujarnya.

Menurut Cak Penthol, pendekatan tersebut berhasil menarik perhatian anak-anak untuk mengenal dan mempelajari dunia pedalangan. Melalui Sanggar Budaya Sangguran yang diasuhnya, sejumlah anak mulai belajar memainkan wayang dan memahami nilai-nilai budaya Jawa.

"Sekarang sudah banyak anak-anak kecil yang tertarik belajar dalang dan mengenal wayang. Walaupun kadang kesulitan memahami bahasa Jawa, tidak apa-apa sambil belajar dan masih bisa dicampur dengan bahasa Indonesia. Yang penting mereka mau dan tertarik mengenal kesenian wayang ini," katanya.

Jangkauan program Warung Lapis Prapatan juga semakin luas melalui TikTok dan layanan streaming RRI Digital. Pendengar dan penonton berasal dari berbagai daerah seperti Klaten, Solo, Sleman, Banyuwangi, Banten, hingga Jawa Barat.

"Kadang ada yang langsung minta si Bagong menerjemahkan ke bahasa Indonesia agar pesan yang disampaikan bisa lebih mudah dipahami," tuturnya.

Cak Penthol berharap inovasi yang dilakukan dapat menjadi jembatan antara budaya tradisional dan generasi muda. Menurutnya, pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku, tetapi bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

"Yang penting anak-anak muda mau mengenal, belajar, dan mencintai budaya sendiri. Dari situ nanti pelestarian budaya akan berjalan dengan sendirinya," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....