Wayang Kulit Masuk Studio: Kelucuan Semar, Bagong, dan Gareng Mengisi Udara Radio

  • 03 Jun 2026 11:49 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID,Malang - Suara tokoh-tokoh Punakawan seperti Petruk, Gareng, dan Bagong biasanya hadir dalam pertunjukan wayang kulit di atas panggung. Namun di tangan Siswanto Galuh Aji atau yang akrab disapa Cak Penthol, tokoh-tokoh tersebut justru mengudara dari dalam studio radio dan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan budaya kepada masyarakat.

Penyiar Pro 4 RRI Malang sekaligus Pemangku Sanggar Budaya Sangguran, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo ini menghadirkan konsep unik melalui program Warung Lapis Prapatan. Program tersebut tidak hanya membahas cerita wayang, tetapi juga mengupas makna di balik lakon, tembang Jawa, hingga piwulang luhur yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.

"Yang saya angkat bukan menceritakan alur ceritanya, tetapi lebih kepada maknanya. Kadang-kadang kita juga memaknai tembang-tembang Jawa yang di dalamnya berisi piwulang luhur tentang jati diri bangsa," ujar Cak Penthol kepada RRI, Selasa (2/6/2026).

Untuk menghindari kesan menggurui, pesan-pesan budaya disampaikan melalui dialog para Punakawan yang dikenal dekat dengan masyarakat.

"Tokoh yang saya hadirkan adalah Punakawan sendiri. Ini untuk mensiasati kesan menggurui ketika kita menyampaikan pitutur-pitutur itu, yang kemudian saya sampaikan dengan dialog," katanya.

Seiring perkembangan teknologi, siaran yang semula dilakukan melalui Facebook kini beralih ke TikTok. Agar lebih menarik, Cak Penthol menghadirkan wayang mini saat siaran langsung.

"Kalau live hanya menampilkan wajah penyiar sambil siaran itu sudah biasa. Akhirnya muncul ide menampilkan wayang mini ini untuk menarik minat penonton. Unik kan, tokoh wayang dibuat mini karena menyesuaikan tempatnya di studio siaran yang kecil," jelasnya.

Wayang mini yang digunakan merupakan hasil karya seorang pengrajin disabilitas asal Merjosari, Kota Malang. Kehadiran wayang tersebut tidak hanya menjadi media edukasi budaya, tetapi juga membantu memperkenalkan produk kerajinan lokal kepada masyarakat.

"Tujuannya juga untuk membantu pengrajin ini memasarkan karya-karyanya. Alhamdulillah mendapat respons positif dan akhirnya kebanjiran pesanan juga," ungkapnya.

Melalui perpaduan antara radio, media sosial, dan pertunjukan wayang mini, Cak Penthol berharap budaya Jawa dapat terus dikenal dan dicintai oleh generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....