Desa Kudadu Saksi Pelarian Raden Wijaya, Diberi Status Istimewa
- 07 Apr 2026 18:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kisah pelarian Raden Wijaya tidak hanya mencatat strategi perang. Nilai kemanusiaan juga tercatat dan terekam dalam sejarah Desa Kudadu.
Hal ini dijelaskan Dalam program “Pesona Budaya” RRI Pro 1 Malang. Narasumber Suwardono mengungkapkan bahwa Desa Kudadu menjadi tempat perlindungan penting bagi Raden Wijaya saat dalam kondisi terdesak.
“Raden Wijaya beserta pengikutnya sangat lapar, lelah, dan sedih ketika sampai di Desa Kudadu. Ia merasa tertimpa bahaya yang sangat besar,” jelasnya pada Senin (6/4/2026).
Suwardono mengatakan, di desa tersebut Raden Wijaya disambut hangat oleh tetua desa bernama Macan Kuping. Ia diterima dan dijamu oleh tetua desa dengan buah kelapa muda dan nasi putih.
"Selain itu juga disediakan tempat sembunyi agar tidak diketahui oleh musuh,” lanjut Suwardono.
Dijelaskan, bantuan tersebut menjadi momen krusial sebelum Raden Wijaya melanjutkan pelariannya ke Madura untuk meminta dukungan kepada Aria Wiraraja. Sebagai bentuk balas jasa, setelah menjadi raja Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, Raden Wijaya memberikan status khusus kepada Desa Kudadu.
“Seluruh tanah Kudadu diberikan kepada tetua desa dan diberikan status merdeka, bebas dari segala pajak, serta dapat diwariskan kepada keturunannya,” ungkap Suwardono.
Menurut Suwardono, Kudadu mendapatkan hak istimewa karena pengorbanan besar mereka. Kisah ini menjadi bukti bahwa dalam sejarah besar kerajaan, peran masyarakat kecil juga memiliki arti yang sangat penting.
"sayangnya prasasti tembaga yang mengisahkan Kudadu tersebut hilang entah ke mana, namun bisa dilihat dari kutipan prasasti dari JLA. Brandes tahun 1913 dalam Oud Javansche Oorkonde dan Tata Negara Majapahit Parwa I tahun 1962 karangan Moh. Yamin," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....