Riyoyo Kupatan di KBP, Luncurkan Sekolah Duta Budaya Malang

  • 28 Mar 2026 08:57 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Suasana penuh kebersamaan dan nuansa tradisi terasa kental dalam perayaan Riyoyo Kupatan (Lebaran Ketupat -red), yang digelar di Kampung Budaya Polowijen. Kegiatan tahunan ini kembali hadir dengan meriah, sekaligus menjadi momentum penting dengan dilaksanakannya launching Sekolah Duta Budaya Malang.

Riyoyo Kupatan merupakan tradisi masyarakat Jawa yang sarat makna. Ketupat dan lepet (leper) yang disajikan menjadi simbol permohonan maaf setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa. Secara filosofis, ketupat dimaknai sebagai “ngaku lepat” (mengakui kesalahan), sementara anyaman janur melambangkan keterikatan sosial dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Suasana makan ketupat di Kampung Budaya Polowijen (Foto: KBP)

Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, yang juga Ketua Pokdarwis Kota Malang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi Riyoyo Kupatan di kampung ini telah dilestarikan secara konsisten selama kurang lebih sembilan tahun.

“Riyoyo adalah tradisinya masyarakat Jawa, sebagai momentum saling memaafkan dan mempererat persaudaraan. Tradisi ini harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya kita,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan pentas Tari Tradisional Malang yang dibawakan oleh para penari Kampung Budaya Polowijen. Berbagai tari topeng khas Malang ditampilkan, di antaranya Tari Beskalan Malang, Tari Topeng Bapang, Topeng Patih, Grebeg Sabrang, Grebeg Jowo, Topeng Ragil Kuning, hingga Topeng Sekartaji.

Atraksi pentas tari topeng Malang dalam riyoyo kupatan di Kampung Budaya Polowijen (Foto: KBP)

Selain itu, hadir pula tamu spesial Miben Voice yang membawakan lima tembang dolanan tradisional. Penampilan ini menjadi istimewa karena rencananya akan ditampilkan kembali di Balai Budaya Guru Nata Mandala, Badung, Bali, pada April mendatang.

Acara ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas dan organisasi dari Kota Malang, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kota Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Komunitas Cinta Berkain Indonesia, Srikandi Pemuda Pancasila Kota Malang, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kota Malang, Citra Kebaya Indonesia, Wanita Tani HKTI Kota Malang, Tiara Kusuma Malang Raya, serta Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang.

Miben Voice membawakan lagu lagu dolanan dalam riyoyo kupatan di Kampung Budaya Polowijen (Foto: KBP)

Pada kesempatan ini, dilaksanakan pula launching Sekolah Duta Budaya Malang sebagai langkah nyata dalam membangun generasi muda yang berbudaya. Sekolah ini menjadi ruang belajar, tumbuh, dan berproses bagi anak-anak untuk mengenal, mencintai, serta melestarikan budaya lokal.

Tidak hanya itu, menurut Mamik Dwi Purwaningsih Kepala Sekolah Duta Budaya ini menjadi wadah pengembangan kemampuan, khususnya public speaking, melalui berbagai kegiatan seni, pertunjukan, dan kreativitas. Peserta didorong untuk berani tampil, percaya diri, serta mampu menyampaikan gagasan dengan baik.

"Diharapkan, dari program ini akan lahir duta-duta budaya yang tidak hanya memahami nilai-nilai budaya, tetapi juga mampu memperkenalkannya kepada masyarakat luas, dengan karakter kuat serta kecintaan yang tulus terhadap budaya Indonesia, khususnya budaya Malang," ungkap Mamik yang akrab di panggil Budhe Mey yang menjadi penyiar Saluran Budaya Pro 4 RRI dengan slogan suara budaya nusantara.

Riyoyo Kupatan di Kampung Budaya Polowijen pun tidak hanya menjadi perayaan tradisi, tetapi juga ruang kolaborasi, edukasi, dan penguatan identitas budaya di tengah masyarakat modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....