Ogoh-Ogoh Simbol Penyucian Diri jelang Hari Nyepi
- 18 Mar 2026 20:58 WIB
- Malang
Poin Utama
- Ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala
RRI.CO.ID, Malang — Tradisi ogoh-ogoh menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan dalam rangkaian perayaan menjelang Hari Raya Nyepi. Patung berukuran besar dengan bentuk menyeramkan ini diarak keliling sebelum akhirnya dibakar dalam prosesi Tawur Agung Kesanga. Di balik tampilannya yang dramatis, ogoh-ogoh menyimpan makna filosofis yang dalam bagi umat Hindu.
Ogoh-ogoh merepresentasikan Bhuta Kala, yaitu simbol sifat-sifat negatif dalam diri manusia seperti amarah, keserakahan, dan ego yang tidak terkendali. Melalui prosesi arak-arakan, umat diajak untuk “menghadapkan” sifat-sifat tersebut ke hadapan alam, sebelum akhirnya dimusnahkan melalui pembakaran. Tahapan ini menjadi simbol bahwa manusia harus mampu mengenali dan mengendalikan sisi gelap dalam dirinya.
Pembakaran ogoh-ogoh bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penyucian diri dan lingkungan. Api dimaknai sebagai unsur pemurnian yang melebur segala energi negatif, sehingga tercipta keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai ini sejalan dengan ajaran Hindu tentang pentingnya harmoni dalam kehidupan, yang dikenal dengan konsep keseimbangan antara berbagai unsur kehidupan.
Lebih dari sekadar tradisi keagamaan, ogoh-ogoh juga menjadi media edukasi budaya dan sosial. Proses pembuatannya melibatkan banyak pihak, terutama generasi muda, sehingga menumbuhkan semangat gotong royong dan kebersamaan. Dalam konteks masyarakat yang beragam, tradisi ini turut menjadi ruang interaksi lintas budaya yang memperkuat toleransi dan saling menghormati antarwarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....