Klenteng Eng An Kiong Malang Rawat Toleransi
- 17 Feb 2026 09:40 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Klenteng Eng An Kiong terasa istimewa. Rumah ibadah Tri Dharma yang berdiri sejak 1825 itu baru saja menapaki usia 200 tahun. Di tengah komunitas Tionghoa kawasan Kotalama, klenteng ini menjadi saksi perjalanan sejarah panjang sekaligus simbol kerukunan antarumat beragama di Kota Malang.
Ketua Agama sekaligus Wakil Ketua Umum Yayasan, Herman Subianto, menjelaskan awal mula berdirinya klenteng tersebut.
“Dulu orang Tionghoa yang datang ke Malang membawa rupang Dewa Bumi atau Hok Tek Ceng Sin. Awalnya hanya rumah ibadah pribadi, tetapi karena banyak yang bersembahyang di sini, akhirnya berkembang menjadi klenteng,” jelasnya saat ditemui RRI di Klenteng En Ang Kiong, Senin 16 Februari 2026.
| Baca juga: Imlek Jadi Ruang Budaya dan Kebersamaan |
Ia mengatakan, seiring waktu tempat ini digunakan umat Buddha, Konghucu, dan Tao.
“Karena berada di tengah komunitas Tionghoa dan lokasinya strategis, akhirnya menjadi pusat ibadah Tri Dharma. Maknanya supaya antarumat beragama bisa bersatu dan saling menjaga,” katanya.
Herman juga meluruskan bahwa Imlek bukan semata perayaan agama.
| Baca juga: Cap Go Meh Digelar Internal Hormati Ramadan |
“Imlek berasal dari tradisi Tiongkok sekitar 4.700 tahun lalu. ‘Im’ artinya bulan, ‘lek’ artinya penanggalan. Sincia berarti tahun baru. Ada legenda Nian, makhluk buas yang konon takut warna merah, sehingga warna merah identik dengan Imlek,” ungkapnya.
Ia berharap di tahun 2577 Kongzili generasi muda semakin aktif.
“Tantangan kami sekarang anak muda jarang datang saat ritual. Harapannya mereka bisa kembali menghidupkan klenteng dan menjaga persaudaraan lintas agama. Selamat Hari Raya Imlek, semoga semua umat kompak dan saling menjaga toleransi,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....