CV Sahabat Pangan Ekspor ke Ceko, Difasilitasi BRI dan Bea Cukai Malang
- 27 Apr 2025 11:52 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Hidup Zainal Efendi pernah seperti roda yang terperosok dalam lumpur. Dulu ia penjual dawet di Klayatan Gang II, Sukun, Kota Malang. Dengan kerja keras dan berkah Tuhan, pria berusia 44 tahun ini memimpin CV Sahabat Pangan dengan merek BangZay, yang produknya telah diekspor ke Malaysia dan siap memperluas pasar ke Ceko.
Semua bermula saat Zainal yang resign sebagai karyawan Indofood pada 2012. Berharap bisa mandiri, ia keluar dengan membawa pesangon untuk modal usaha. "Saya ingin punya usaha sendiri, tapi malah bangkrut. Pesangon habis, utang menumpuk," kenangnya.
Untuk bertahan, Bang Zay, sapaannya, berjualan dawet cendol, menjaga kolam lele di Senaputra, dan bekerja serabutan. "Saat itu anak saya tiga, sekolah jalan terus. Kadang buat makan saja susah. Saya benar-benar jatuh," katanya yang sekarang sudah menjadi bapak empat anak itu.
Di saat sulit tersebut, Bang Zay sempat berutang lagi demi mencoba berangkat kerja ke Korea Selatan sebagai TKI, tapi gagal. Istrinya kemudian mengambil keputusan besar, menjadi TKW di Hong Kong pada 2014.
Bang Zay kemudian aktif mengikuti pelatihan di Kelompok Wanita Tani binaan Dinas Pertanian Kota Malang. Ia belajar mengolah hasil perikanan menjadi produk bernilai jual, seperti abon lele dan keripik lele. Tahun 2015, ia mendirikan CV Sahabat Pangan secara resmi.
Namun, perjalanan tidak mulus. Usaha lele yang digelutinya terkendala faktor sosial, harga jual rendah, hingga biaya pakan yang tinggi. Bisnis lele mandek, kelompok usaha dibekukan. "Saya sempat bingung lagi, mau usaha apa," kata Zainal.
Titik balik datang saat ia lolos seleksi Food Startup Indonesia 2017, program dari BEKRAF. Di sana, selama seminggu penuh di Bali, Zainal ditempa keras oleh para mentor hebat seperti Budi Isman dan Dony Wangke.
"Saya yang awalnya cuma jualan kecil-kecilan, benar-benar dibuka cara pikirnya oleh mentor. Bisnis itu bukan cuma jualan, tapi harus ada visi, target jangka pendek dan panjang," ujarnya.
Zainal mulai berani melakukan riset dan inovasi. Ia menemukan ide membuat keripik buah dengan metode vacuum frying menggunakan minyak kelapa. "Saya ingin beda. Keripik saya tanpa bahan tambahan, tanpa pengawet, alami," jelasnya.
Ia belajar sendiri teknik suhu rendah, pengemasan dengan nitrogen untuk memperpanjang usia simpan, hingga menetapkan standar produksi yang ketat. "Kalau mau naik kelas, semua harus terukur dan profesional," tegas Zainal.
Dengan bekal baru itu, lahirlah brand BangZay, yang menawarkan keripik premium dari pisang, mangga, apel, salak, jamur, brokoli, dan nangka.
Untuk mendukung usahanya, Zay yang telah mendapat banyak bekal ilmu, meminta istrinya pulang dari Hongkong.
Melalui berbagai pameran dan pelatihan, Zainal memperluas pasarnya. Ia pun aktif mengikuti ajang seperti SIAL Interfood dan BRIlianpreneur, memperkenalkan produknya kepada buyer lokal dan internasional.
Tak hanya berhenti di produk, ia juga fokus membangun fondasi usaha yang kuat. Tahun 2022, Zainal berhasil meraih sertifikasi HACCP untuk keamanan pangan. Tahun 2023, ia mendapatkan ISO 22000, standar internasional keamanan pangan.
"Kalau mau ekspor, produk kita harus aman sampai ke tangan konsumen dunia," katanya.
Kini, BangZay telah mengirimkan produk ke Malaysia, dan pada akhir 2024 siap mengirimkan 500 kilogram produk ke Republik Ceko. Ia juga mengembangkan layanan private label, membantu UMKM lain dalam pengemasan hingga sertifikasi produk.
Dukungan perbankan juga mengalir. Lewat BRI, Zainal mendapatkan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp500 juta. "BRI banyak membantu kami, tidak hanya dari pembiayaan, tapi juga akses ke event nasional lewat BRIlianpreneur," tuturnya.
Bagi Zainal, kunci keberhasilan bukan hanya pada kerja keras, tetapi juga pada kemauan untuk memperbaiki diri dan hati. "Bisnis itu kerja keras dan kuasa Tuhan. Tapi kalau hati belum bersih, rezeki juga susah masuk," tandasnya.
Sebelum usahanya bangkit, ada satu momen penting dalam hidup Zainal: rekonsiliasi dengan ayahnya. Itu adalah pesan mentornya agar membereskan hati dan persoalan dalam keluarga.
"Saya dulu pernah membenci bapak saya. Ada banyak amarah yang saya pendam. Tapi sebelum mulai usaha, saya disadarkan mentor, semua harus dibersihkan. Saya minta maaf. Saya peluk bapak saya, saya meminta maaf dan berdamai," tuturnya lirih.
Sejak itulah, Zainal merasakan perubahan besar. "Rezeki itu seperti mengalir, pintu-pintu peluang mulai terbuka," tutupnya.
Bea Cukai Malang bersama BRI dan Pemkot Malang memang sempat memberangkatkan produk BangZay ke Ceko pada 2024. Kasi Informasi dan Penyuluhan Bea Cukai Malang, Dwi Prasetyo Rini, membenarkan.
Karena BangZay ekspor atas nama brand-nya sendiri, akhirnya berkenalan dengan pabean. Sebab, urusan Pemberitahuan Ekspor Barang harus lewat Bea Cukai.

Kasi Informasi dan Penyuluhan Bea Cukai Malang, Dwi Prasetyo Rini menunjukkan sampel produk CV Sahabat Pangan. (foto : RRI Malang/William Nathan)
Kebetulan, Bea Cukai sangat mendukung UMKM yang berniat ekspor. “Kami pun fasilitasi BangZay, terutama dari sisi regulasi. Sehingga, ekspor UMKM BangZay ke Ceko lancar,” ujar Rini ditemui di kantor Bea Cukai Malang.
Indah Dwi Pangestu, Koordinator Rumah Kreatif BUMN Kota Malang, menegaskan komitmen BRI mendukung UMKM.
“Sejak berdiri, Rumah Kreatif BUMN Kota Malang bertekad mendukung kemajuan UMKM. Lewat fasilitas pelatihan, event seperti BRIlianpreneur maupun pameran BRI UMKM EXPO(RT), kami sangat berharap UMKM naik kelas dan berhasil,” tambahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....