Anak Siap Sekolah Tak Hanya Diukur dari Calistung
- 20 Sep 2026 11:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang: Kesiapan anak memasuki sekolah dasar tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau calistung. Anak juga perlu memiliki kemampuan mengelola emosi, berinteraksi dengan teman, mengikuti aturan sederhana, berkomunikasi, mandiri, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Praktisi dan konsultan PAUD, Fitri Witano Velasari, mengatakan kesiapan sekolah merupakan kemampuan yang mencakup berbagai aspek perkembangan anak dan tidak dapat hanya diukur dari kemampuan akademiknya.
“Kesiapan sekolah sangat multidimensi, tidak hanya baca tulis. Ada literasi dan numerasi, regulasi emosi atau sosial emosional. Harus bersama-sama dalam satu anak tersebut,” jelas Fitri dalam dialog bersama RRI Malang pada Rabu (16/9/2026). Selain aspek sosial emosional dan akademik, menurutnya anak juga membutuhkan kesiapan kognitif, yakni kemampuan untuk berpikir, bernalar dan memecahkan masalah. Perkembangan fisik juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan sebelum anak memasuki lingkungan sekolah.
Fitri menilai kemampuan memecahkan masalah dan beradaptasi menjadi keterampilan penting bagi anak. Terlebih, pada saat ini informasi dapat diperoleh anak dengan mudah melalui berbagai sumber. Anak yang sudah mampu membaca dengan lancar belum tentu siap menghadapi situasi sosial di sekolah apabila masih kesulitan mengelola emosi, mengikuti aturan atau berpisah dari orang tua. “Saat informasi mudah didapatkan anak, saat ia bisa cepat menangkap, maka yang penting adalah kesiapan anak untuk memecahkan masalah, beradaptasi. Softskill ini yang sulit,” ujarnya.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menjadikan kemampuan anak lain sebagai patokan perkembangan buah hati. Stimulasi literasi dan numerasi dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-hari tanpa harus membuat anak merasa sedang mengikuti pembelajaran formal. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi, mengenalkan angka melalui aktivitas sederhana, maupun memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan yang berkaitan dengan dirinya.
Praktisi dan konsultan pengembangan pendidikan, Agustinus Lesamana, juga mengingatkan penggunaan gawai perlu didampingi orang tua. Menurutnya, apabila anak menonton melalui layar, orang tua perlu terlibat dengan memberikan pendampingan dan mengajak anak berdiskusi mengenai apa yang ditontonnya. “Boleh screentime, tapi dampingi, dan diajak diskusi setelah nonton. Namun paling utama adalah tidak ada screentime,” jelas Agustinus.
Kesiapan sekolah pada akhirnya bukan tentang seberapa cepat seorang anak menguasai kemampuan akademik, melainkan bagaimana berbagai kemampuan tersebut berkembang secara seimbang. Anak yang mampu berkomunikasi, mengelola emosi, beradaptasi dan menyelesaikan masalah akan memiliki bekal penting ketika memasuki lingkungan sekolah. Orang tua pun perlu melihat perkembangan anak secara menyeluruh, bukan hanya bertanya, “Anak saya sudah bisa apa?”, tetapi memahami anak tumbuh menjadi pembelajar seperti apa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....