Beda Pendapat dengan Orang Tua, Begini Cara Berbakti tanpa Menyakiti

  • 06 Sep 2026 13:11 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Berbakti kepada orang tua bukan berarti seorang anak harus selalu mengikuti seluruh keinginan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan pandangan, persoalan ekonomi, jarak tempat tinggal hingga pilihan pasangan dapat menjadi ujian dalam menjalankan Birrul Walidain.

Persoalan tersebut turut disampaikan sejumlah pendengar dalam Tausyiah Mutiara Pagi bersama Ustazah Hajah Dr. Rukmini Amar, M.AP. Mereka meminta penjelasan mengenai cara tetap menghormati orang tua ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.

Salah seorang pendengar dari Lowokwaru, Kota Malang, mengaku terkadang terpancing emosi ketika berbeda pendapat dengan orang tua. Padahal, ia merasa sudah berusaha berbakti dan khawatir sikap tersebut membuatnya termasuk anak durhaka.

Ustazah Rukmini menjelaskan, perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Anak dapat menyampaikan pandangan secara perlahan dengan memilih cara komunikasi yang tidak membuat orang tua tersinggung.

“Cara menyampaikan itu perlu pendekatan komunikasi yang sekiranya orang tua tidak tersinggung. Kalau sudah terlanjur, ya minta maaf,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, meminta maaf kepada orang tua tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk kekalahan. Perasaan gengsi justru perlu dikendalikan karena masing-masing orang dapat memiliki sudut pandang berbeda terhadap sebuah persoalan.

Persoalan lain datang dari pendengar di Sukun, Kota Malang. Ia menanyakan bagaimana menghadapi nasihat orang tua yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman, sementara anak tetap ingin menjaga rasa hormat kepada mereka.

Ustazah Rukmini menyarankan agar anak tidak langsung menentang nasihat tersebut. Jika memang terdapat perbedaan, sampaikan dengan cara yang baik dan hindari memperbesar konflik.

“Jangan langsung ditentang. Kalau tidak sependapat, iya-iya saja kalau itu akan memicu konflik, kemudian kita sampaikan dengan cara yang baik,” ungkapnya.

Tantangan berbeda disampaikan pendengar dari Singosari, Kabupaten Malang, mengenai orang tua yang dianggap tidak adil dalam memperlakukan anak. Menurut pendengar tersebut, anak yang memiliki kemampuan finansial lebih justru mendapatkan perlakuan istimewa dibandingkan saudara lainnya.

Ustazah Rukmini menyarankan agar pengalaman tersebut dijadikan pelajaran. Anak dapat mengambil hikmah dengan berusaha tidak mengulangi perlakuan yang sama ketika kelak menjadi orang tua.

“Yang kita hadapi tidak enak itu jadikan pelajaran. Allah memberikan pelajaran kepada kita bahwa saya nanti kalau jadi orang tua jangan sampai seperti orang tua saya,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan agar anak tetap mendoakan orang tua, termasuk ketika pernah mendapatkan perlakuan yang dirasa kurang adil. Menurutnya, seorang anak dapat memohon kepada Allah agar orang tuanya diberikan ampunan atas kekhilafan yang mungkin terjadi karena keterbatasan pengetahuan atau pengalaman.

Persoalan berbakti juga dapat muncul ketika anak perempuan harus merawat ibunya yang sakit, tetapi terkendala izin dari suami. Dalam kondisi tersebut, Ustazah Rukmini mengingatkan pentingnya komunikasi antara pasangan.

Ia berharap suami dapat memahami keinginan istrinya untuk merawat orang tua, terlebih ketika orang tua sedang sakit dan membutuhkan perhatian. Perawatan juga dapat dilakukan secara bergantian agar kewajiban terhadap pasangan dan orang tua tetap berjalan.

“Para suami juga harus berpikir bagaimana yang namanya anak itu pasti ingin merawat. Kalau bisa gantian,” tegasnya.

Sementara itu, bagi anak yang tinggal jauh karena bekerja, jarak bukan alasan untuk berhenti berbakti. Komunikasi rutin, perhatian terhadap kesehatan orang tua, mengirim kebutuhan yang diperlukan, hingga membawa makanan kesukaan ketika pulang merupakan bentuk sederhana Birrul Walidain.

“Jadi artinya hati kita itu selalu ada di hati orang tua. Kita itu selalu ada di hati orang tua,” tuturnya.

Dalam persoalan pernikahan, Ustazah Rukmini juga menyarankan anak yang belum mendapatkan restu untuk mencari tahu alasan penolakan orang tua. Kekhawatiran orang tua, menurutnya, terkadang muncul karena takut anaknya disia-siakan oleh calon pasangan.

Jika komunikasi langsung sulit dilakukan, anak dapat meminta bantuan orang yang dipercaya untuk memberikan pemahaman kepada kedua orang tua. Selain itu, anak dianjurkan memohon petunjuk kepada Allah melalui istikharah jika pilihan tersebut berkaitan dengan jodoh.

Pada akhirnya, Ustazah Rukmini menegaskan bahwa Birrul Walidain bukan berarti menghilangkan akal sehat atau memaksa anak selalu mengikuti semua keinginan orang tua. Intinya adalah tetap menjaga penghormatan, menghindari ucapan yang menyakitkan, menyampaikan perbedaan dengan cara yang baik, serta terus mendoakan orang tua.

“Jangan disakiti, kekerasan verbal pada orang tua juga harus dijaga, kemudian sambung hatinya dengan selalu mendoakan, baik orang tua yang masih hidup maupun yang sudah tidak ada,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....