Jejak Sejarah RRI Malang Jadi Pengingat Peran Radio di Era Digital

  • 30 Agt 2026 10:25 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Perjalanan panjang Radio Republik Indonesia (RRI) Malang sebagai media publik di Bhumi Arema kembali menjadi sorotan dalam rangkaian peringatan Hari Radio ke-81.
Melalui program Warung Gaul Pro 4 RRI Malang bertema “Jejak Sejarah RRI Malang di Bhumi Arema”, yang telah dilangsungkan Jumat 28 Agustus 2026, sejumlah tokoh membahas peran radio dalam menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus menjawab tantangan era digital.
Diskusi yang disiarkan dari Graha Siar RRI Malang tersebut menghadirkan Ketua Museum Film Indonesia Hariadi, Ketua BPC PHRI Kota Malang Agoes Basoeki, Ketua BPD PHRI Jawa Timur Dwi Cahyono, serta Ketua Persatuan Pensiunan RRI Malang Buang Supeno.
Hariadi menilai RRI Malang memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Malang. Menurutnya, radio tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi ruang penyimpanan berbagai rekaman peristiwa, budaya, dan dinamika kehidupan masyarakat dari masa ke masa.
Ia menjelaskan, arsip suara yang tersimpan di radio memiliki nilai historis yang tinggi karena merekam berbagai peristiwa penting yang dapat menjadi sumber informasi bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Dwi Cahyono menekankan pentingnya media dalam menjaga identitas daerah. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk memperkuat dokumentasi sejarah dan budaya Malang agar tetap dikenal oleh generasi muda.
"Media memiliki peran strategis dalam menjaga dan menyebarluaskan cerita tentang Malang, baik sejarah, budaya, maupun perkembangan masyarakatnya," ujarnya.
Dari perspektif pelaku pariwisata, Agoes Basoeki menilai RRI selama ini turut berkontribusi memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas. Peran tersebut dinilai penting di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin kompetitif.
Menurutnya, kolaborasi antara media, pelaku usaha pariwisata, komunitas, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar promosi daerah tidak hanya berorientasi pada destinasi wisata, tetapi juga pada nilai sejarah dan budaya yang dimiliki Malang.
Sementara itu, Buang Supeno membagikan pengalaman dan kenangannya selama mengabdi di RRI Malang. Ia menuturkan bahwa perjalanan lembaga penyiaran publik tersebut tidak lepas dari dedikasi para insan radio yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari pelayanan informasi kepada masyarakat.
Menurut Buang, perubahan teknologi dan platform penyiaran merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun, nilai dasar yang selama ini dijaga RRI, seperti independensi, pelayanan publik, dan kedekatan dengan masyarakat, harus tetap dipertahankan.
Para narasumber sepakat bahwa radio masih memiliki ruang penting di tengah perkembangan media digital. Selain sebagai sumber informasi, radio dinilai memiliki kekuatan dalam membangun kedekatan emosional dengan pendengar melalui suara, cerita, dan dokumentasi berbagai peristiwa.
Melalui refleksi perjalanan sejarah tersebut, RRI Malang diharapkan terus menjaga warisan penyiaran yang telah dibangun selama puluhan tahun sekaligus memperkuat perannya sebagai media publik yang adaptif, terpercaya, dan relevan bagi masyarakat.
Bagi para narasumber, setiap suara yang disiarkan hari ini bukan sekadar informasi sesaat, melainkan bagian dari catatan sejarah yang akan menjadi jejak bagi generasi mendatang.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....