Jejak Jingga di Kaki Rinjani: Merajut Makna dan Meninggalkan Warisan di Desa Bayan

  • 26 Agt 2026 16:36 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID Malang - Sebuah perjalanan pada akhirnya akan bermuara pada satu titik bernama kepulangan. Namun, bagi tim FISIP Bakti Desa (FBD) 60 Indonesia Timur: Jingga Berdampak, kepulangan ke kota Malang bukanlah sebuah akhir, melainkan gerbang awal dari keberlanjutan. Setelah satu bulan penuh membaur, belajar, dan mengabdi di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, rangkaian program yang telah bergulir sejak 1 Juli ini resmi menemui puncaknya.

Lebih dari sekadar singgah, kehadiran mahasiswa di Desa Bayan dirancang untuk meninggalkan jejak langkah yang tak lekang oleh waktu. Pengabdian ini melahirkan berbagai luaran strategis yang terangkum dalam empat pilar utama: pendidikan, pembangunan, kesehatan, dan pariwisata.

Menyemai Harapan melalui Pendidikan

Di sektor pendidikan, dedikasi diarahkan untuk membangun karakter dan kapasitas siswa di SDN 2 Bayan dan SMPN 6 Bayan. Tim FBD 60 merumuskan lima modul pembelajaran komprehensif, mulai dari Modul Cita-Cita, Kesadaran Diri, Pencegahan Bullying, hingga Edukasi Seksual untuk tingkat SD dan SMP. Lebih dari itu, sebuah Dokumen Rekomendasi Sistem OSIS SMP serta Buku Dongeng Edukasi turut disalurkan melalui Perpustakaan Keliling, menjadi pelita literasi baru bagi anak-anak Desa Bayan.

Menjaga Harmoni Alam dan Pembangunan

Kesadaran akan kelestarian lingkungan diwujudkan melalui inisiatif nyata di sektor pembangunan. Menitikberatkan pada tata kelola sampah, tim menyusun Policy Brief Pengelolaan Sampah sebagai dokumen rekomendasi strategis bagi desa. Intervensi fisik pun dilakukan secara cermat, berwujud pemasangan plang larangan membuang sampah di kawasan suci Hutan Adat, serta penyediaan sarana tempat sampah di berbagai titik vital, menyesuaikan dengan denyut kebutuhan masyarakat setempat.

Pendekatan Interaktif untuk Generasi Sehat

Kesehatan generasi penerus menjadi perhatian tak kalah penting. Rangkaian kegiatan dinamis seperti Senam Bersama, Posyandu Literasi, hingga perayaan Hari Anak Nasional mewarnai hari-hari di Bayan. Untuk memastikan edukasi gizi dan sanitasi terus berjalan, FBD 60 menghadirkan media belajar yang visual dan interaktif, seperti Alat Peraga Edukatif (APE) Ular Tangga Gizi, Modul Kesehatan, dan presentasi edukasi interaktif yang dirancang agar mudah dicerna oleh anak-anak.

Digitalisasi Budaya dan Pesona Pariwisata

Sebagai wilayah yang kaya akan warisan leluhur, potensi Desa Bayan didorong agar lebih dikenal dunia. Melalui inisiatif BayanPedia dan Program Dokumenter, sejarah, budaya, dan pesona wisata desa ini didigitalisasi ke dalam Wiki Universe (Wikipedia, Wikivoyage, dan Wikicommons) serta format audiovisual. Masyarakat juga dibekali kemampuan literasi digital melalui Workshop BayanPedia, memastikan mereka mampu menjadi pencerita bagi tanah kelahirannya sendiri.

Rangkaian apresiasi budaya ini semakin semarak dengan digelarnya Pre-Event Peresean tingkat SD–SMP. Tradisi ini menjadi ruang bagi tunas-tunas muda Bayan untuk mencintai warisan leluhurnya, yang kemudian bermuara pada acara puncak: Festival Gumi Bayan. Festival ini bukan sekadar panggung perayaan, melainkan sebuah ruang perpisahan yang hangat, mempertemukan masyarakat, pemangku kepentingan, dan mahasiswa dalam satu harmoni pelestarian budaya.

Sebuah Cerita yang Terus Hidup

Pada akhirnya, jejak FBD 60 Indonesia Timur di Desa Bayan jauh melampaui dokumen tertulis atau monumen fisik. Warisan sejati dari pengabdian ini terletak pada ruang-ruang perjumpaan—dalam tawa anak-anak saat belajar bersama, peluh yang menetes saat gotong royong, hingga kehangatan obrolan di beranda rumah warga.

Tanggal 31 Juli mungkin menandai ditariknya langkah fisik dari tanah Bayan, namun manfaat yang ditanam tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Seperti yang dituturkan oleh Koordinator Utama FBD 60 Indonesia Timur, Alif Albanna ada asa yang besar yang dititipkan bersamaan dengan kepulangan mereka.

"Harapan kami, perjalanan ini menjadi bagian kecil dari langkah panjang menuju desa yang semakin berkembang, tanpa pernah kehilangan identitas dan kekayaan budayanya. Semoga tradisi Bayan terus berdetak di dada generasi mudanya, potensi wisatanya mendunia, alamnya lestari, dan masyarakatnya senantiasa tumbuh dalam kebersamaan. Sebab ketika sebuah perjalanan berakhir, yang tersisa bukan hanya tentang ke mana kaki pernah melangkah, tetapi jejak apa yang ditinggalkan dan cerita apa yang terus hidup setelahnya," ujarnya, Rabu (26/8/2026).

Dari Desa Bayan, cerita itu kini dibawa pulang ke Malang, sementara maknanya akan terus mekar di kaki Gunung Rinjani. (dwi)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....