Terlalu Sering Bilang Iya Bisa Picu Kelelahan Emosional
- 12 Agt 2026 15:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Kebiasaan selalu mengatakan “iya” demi menjaga perasaan orang lain dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Psikolog Ritna Sandri, M.Psi., mengatakan, people pleasing yang berlangsung terus-menerus dapat memicu stres hingga kelelahan emosional.
Ritna menjelaskan, seseorang yang terbiasa memenuhi permintaan orang lain sering memaksakan diri meskipun sedang lelah atau tidak mampu. Kondisi tersebut membuat tuntutan yang harus dipenuhi semakin banyak, sementara kebutuhan pribadi justru semakin terabaikan.
“Yang paling dampak jangka pendek itu biasanya adalah stres karena merasa harus memenuhi banyak tuntutan,” ujar Ritna saat dikonfirmasi RRI, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, apabila pola tersebut terus berlangsung, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional dan berbagai dampak psikologis lainnya. Kecemasan juga dapat muncul ketika individu harus menolak permintaan karena khawatir ditinggalkan, tidak dihargai, atau menjadi bahan pembicaraan orang lain.
Dampak lainnya adalah munculnya rasa bersalah dan malu ketika seseorang mulai memprioritaskan dirinya sendiri. Padahal, menetapkan batas dalam pertemanan maupun hubungan sosial merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.
Ritna menilai, people pleaser sering merasa bertanggung jawab terhadap kondisi emosi orang lain. Akibatnya, keputusan sederhana seperti menolak ajakan bertemu dapat terus dipikirkan meskipun orang yang ditolak sebenarnya tidak mempermasalahkannya.
“Perasaan orang lain itu bukan sepenuhnya tanggung jawab dirinya,” tegas Ritna.
Ia mengatakan, kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang menekan kemarahan atau keinginannya sendiri. Jika berlangsung lama, emosi yang terus dipendam dapat berkembang menjadi frustrasi karena individu tidak terbiasa menyampaikan kebutuhan secara terbuka.
Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat mengalami kebingungan dalam menentukan kebutuhan dan keinginannya sendiri. Kebutuhan untuk mendapatkan validasi dan diterima orang lain dapat membuat batas antara keinginan pribadi dan tuntutan lingkungan menjadi semakin kabur.
Ritna menyebut langkah awal yang dapat dilakukan adalah memahami bahwa menolak permintaan orang lain tidak otomatis membuat seseorang menjadi jahat. Individu perlu belajar menetapkan batas dan memahami bahwa dirinya memiliki hak untuk tidak membantu ketika kondisi tidak memungkinkan.
Selain itu, kemampuan bersikap asertif juga perlu dilatih secara bertahap. Perubahan perilaku tersebut akan lebih mudah dilakukan apabila seseorang terlebih dahulu memahami pola pikir yang membuatnya takut mengatakan tidak.
“Perilaku itu kan bisa berubah ketika pola pikirnya berubah,” kata Ritna.
Dalam penanganan psikologis, Ritna menjelaskan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy atau CBT dapat digunakan setelah dilakukan asesmen. Pendekatan tersebut membantu mengidentifikasi pola pikir atau keyakinan yang tidak rasional, termasuk keyakinan bahwa seseorang akan ditinggalkan jika tidak menyenangkan orang lain.
Namun, tidak semua kondisi people pleasing secara otomatis membutuhkan bantuan profesional. Apabila perilaku masih dapat diatasi, dukungan dari orang terdekat dan latihan menetapkan batas dapat menjadi langkah awal.
Sebaliknya, bantuan profesional diperlukan apabila terdapat trauma mendalam atau persoalan lain yang membuat perilaku tersebut semakin mengganggu kehidupan seseorang. Karena itu, memahami penyebab dan tingkat keparahan menjadi bagian penting sebelum menentukan langkah penanganan.
Ritna berpesan, mengatakan tidak bukan berarti seseorang kehilangan nilai dirinya. Justru kemampuan membangun batas dapat membantu seseorang menciptakan hubungan interpersonal yang lebih seimbang tanpa terus-menerus mengorbankan kebutuhan pribadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....