Ustaz Abdul Aziz: Istilah "Membeli" Bentuk Pemuliaan Allah kepada Hamba
- 05 Agt 2026 15:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Penggunaan istilah "membeli" dalam Al-Qur'an bukan menunjukkan bahwa Allah membutuhkan manusia, melainkan bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada hamba-Nya. Hal tersebut disampaikan Ustaz Abdul Aziz dalam program Kajian Keislaman Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang, Rabu 5 Agustus 2026.
Dalam kajian bertema "Katanya Semua Milik Allah... Tapi Kenapa Allah Membelinya?", ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an kerap menggunakan bahasa kiasan atau metafora untuk memudahkan manusia memahami pesan-pesan ilahi.
Menurutnya, penggunaan metafora dapat ditemukan dalam berbagai ayat Al-Qur'an, termasuk penggambaran surga sebagai taman yang indah. Pendekatan tersebut digunakan agar makna yang disampaikan lebih dekat dengan pemahaman manusia.
Mengutip Surah At-Taubah ayat 111, Ustaz Abdul Aziz menjelaskan bahwa dalam konsep jual beli, transaksi hanya dapat dilakukan oleh pihak yang memiliki barang. Karena itu, muncul pertanyaan mengapa Allah menggunakan istilah "membeli" jiwa dan harta orang-orang beriman, sementara seluruh alam semesta beserta isinya adalah milik-Nya.
"Allah menggunakan istilah 'membeli' bukan karena membutuhkan manusia. Itu adalah bahasa kiasan yang menunjukkan kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya," ujar Ustaz Abdul Aziz.
Ia menambahkan, ungkapan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" menegaskan bahwa manusia dan seluruh yang dimilikinya berasal dari Allah serta akan kembali kepada-Nya. Oleh sebab itu, istilah "membeli" dalam ayat tersebut perlu dipahami sebagai bentuk penghormatan Allah kepada manusia.
Merujuk pada penjelasan Ibnu Abbas, ia menyebut ayat tersebut sebagai metafora yang menggambarkan kemurahan Allah kepada hamba-Nya. Menurutnya, Allah tidak memperlakukan manusia seperti budak yang seluruh hartanya dirampas, tetapi memuliakan mereka seolah menjadi mitra dalam sebuah transaksi yang didasari kerelaan.
"Allah memuliakan manusia dengan menggambarkan hubungan itu sebagai sebuah transaksi. Ini menunjukkan kasih sayang dan penghargaan Allah kepada orang-orang beriman," katanya.
Dalam kesempatan itu, Ustaz Abdul Aziz juga mengingatkan bahwa kehilangan harta atau mengalami kebangkrutan tidak selalu dapat dimaknai sebagai Allah mengambil kembali milik-Nya. Ia menilai kondisi tersebut sering kali merupakan konsekuensi dari pilihan dan tindakan manusia sendiri.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menyadari bahwa harta, waktu, tenaga, dan seluruh potensi yang dimiliki merupakan titipan Allah yang harus dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan-Nya.
"Yang paling mengagumkan dari transaksi ini adalah balasan yang Allah berikan. Kehidupan dunia yang singkat dihargai dengan surga yang kekal bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh," ucapnya.
Ia menegaskan, gambaran tersebut menunjukkan besarnya kasih sayang, kemurahan, dan penghargaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman serta menjalankan perintah-Nya. (Mey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....