Keutamaan Istighfar Membuka Jalan Ampunan dan Rahmat Allah SWT

  • 27 Jul 2026 09:12 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Memperbanyak istighfar menjadi amalan yang dianjurkan bagi setiap Muslim sebagai jalan meraih ampunan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan Ustaz Deddi N. Abdullah, M.Pd.I dalam program Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang, Sabtu (25/7/2026). Melalui tema “Keutamaan Istighfar”, ia menegaskan bahwa meskipun para ulama menganjurkan memperbanyak istighfar pada bulan Safar, amalan tersebut sejatinya tidak dibatasi oleh waktu tertentu dan seharusnya dilakukan setiap saat.

Ustaz Deddi menjelaskan bahwa istighfar berarti memohon ampun kepada Allah SWT, Al-Ghaffar, Dzat Yang Maha Pengampun. Bacaan istighfar yang paling sederhana adalah Astaghfirullah atau Astaghfirullahal ’Azhim wa atubu ilaih. Sebagai manusia yang tidak terjaga dari dosa sebagaimana para nabi, setiap orang sangat mungkin melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Bahkan, di era digital saat ini, ketika seseorang membuka media sosial dengan niat mencari ilmu, tidak jarang muncul berbagai konten yang mengarah pada hal-hal negatif. Karena itu, memperbanyak istighfar menjadi benteng sekaligus pengingat agar senantiasa kembali kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa istighfar merupakan salah satu bentuk taubat yang diperintahkan Allah SWT. Umat Islam dianjurkan bertaubat dengan taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya. Selain bacaan istighfar yang pendek, Rasulullah SAW juga mengajarkan Sayyidul Istighfar yang dianjurkan diamalkan, terutama setelah salat Subuh, sebelum Maghrib, atau setelah Isya. Rasulullah SAW menjanjikan bahwa siapa yang membacanya dengan penuh keyakinan dan penghayatan, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya, sekalipun sebanyak buih di lautan.

Namun demikian, Ustaz Deddi mengingatkan bahwa istighfar tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Taubat harus disertai kesungguhan hati, penyesalan, serta tekad kuat untuk meninggalkan perbuatan dosa. Orang yang beristighfar tetapi tetap berniat melanjutkan kemaksiatan disebut sebagai “taubat para pendusta”. Meski demikian, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sebaik-baik manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, adalah mereka yang segera memohon ampun kepada Allah SWT setiap kali melakukan kesalahan.

Ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 135 yang menjelaskan bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah SWT dan memohon ampun kepada-Nya, serta tidak mengulangi dosa tersebut. Menurutnya, perbuatan keji dapat berupa dosa yang berkaitan dengan hak orang lain, seperti riba, zina, atau ghibah, sedangkan menzalimi diri sendiri adalah melakukan kemaksiatan yang dampaknya terutama dirasakan oleh pelakunya, seperti mengonsumsi minuman keras. Taubat yang diterima adalah taubat yang lahir dari kesadaran penuh dan disertai komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selain memohon ampun kepada Allah SWT, seseorang yang memiliki kesalahan kepada sesama manusia juga harus menyelesaikan hak-hak orang lain. Misalnya, jika memiliki utang atau pernah berbuat zalim kepada orang lain, maka ia harus meminta maaf dan mengembalikan hak tersebut. Ustaz Deddi menegaskan bahwa istighfar yang disertai taubat yang tulus tidak hanya mendatangkan ampunan Allah SWT, tetapi juga membuka pintu rahmat, melapangkan berbagai urusan, memberikan jalan keluar dari kesulitan, serta menghadirkan keberkahan rezeki dalam kehidupan. (Mey)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....