Memahami Makna Musibah Berdasarkan Pandangan dan Ajaran Agama
- 20 Jul 2026 17:40 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Musibah dan bencana yang menimpa kehidupan sering kali ditanggapi dengan kesedihan yang mendalam serta rasa kecewa tanpa memahami makna di baliknya. Padahal, ajaran agama telah memberikan panduan yang jelas mengenai hakikat di balik setiap peristiwa buruk yang dialami manusia.
Badrun, S.HI menjelaskan konsep musibah dari kacamata syariat saat mengisi materi dalam acara Cahyaning Ati RRI Malang pada Jumat (17/7/2026). Ia menyampaikan bahwa peristiwa tidak menyenangkan yang dialami manusia bisa berfungsi sebagai penghapus dosa, cobaan tingkat keimanan, atau bentuk peringatan kasih sayang dari Allah SWT agar manusia semakin dekat kepada-Nya.
"Setiap musibah yang menimpa mengandung pesan kasih sayang Allah agar kita senantiasa berintrospeksi diri," ujarnya pada acara Cahyaning Ati RRI Malang.
Menurutnya penting sekali menjaga sikap husnudzon atau berprasangka baik kepada setiap ketetapan Allah SWT, sekecil apa pun ketidaknyamanan yang dirasakan. Meyakini bahwa Allah tidak akan memberi beban di luar batas kemampuan hamba-Nya akan memberikan kekuatan spiritual yang besar. Menurutnya, kesabaran dan keikhlasan menjadi bekal utama agar seseorang mampu melewati ujian hidup tanpa kehilangan harapan serta tetap berusaha memperbaiki diri.
Badrun juga menjelaskan bahwa seorang muslim tidak dianjurkan menjadikan musibah sebagai alasan untuk berputus asa atau menyalahkan takdir. Sebaliknya, setiap ujian hendaknya dijadikan momentum untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, memperkuat hubungan dengan sesama, serta menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang masih diberikan Allah SWT. Sikap tersebut akan melahirkan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, sekaligus menjadikan musibah sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Dengan demikian, seseorang mampu menghadapi musibah dengan penuh ketenangan tanpa harus menyalahkan keadaan atau meratapi nasib secara berlebihan. Pemahaman ini mengubah duka menjadi sarana evaluasi diri yang sangat berharga sehingga setiap cobaan dapat diterima sebagai bagian dari proses pembelajaran menuju pribadi yang lebih sabar, lebih kuat, dan lebih dekat kepada Allah SWT. (Belgistaniko)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....