Tren Kuliner "Sultan" yang Tak Pernah Kehabisan Pembeli

  • 15 Jul 2026 10:37 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Beberapa tahun terakhir, fenomena makanan dan minuman berlabel "Sultan" Mulai dari dessert premium berharga ratusan ribu per kotak, kopi dengan biji langka, hingga camilan tradisional yang "naik kasta" menjadi menu mewah berharga jutaan. Anehnya, karena harganya tidak masuk akal, gerai-gerai ini justru sering kali dipadati antrean panjang dan slot Pre-Order mereka ludes dalam hitungan menit.

Mengapa masyarakat kita rela merogoh kocek begitu dalam hanya untuk sesuatu yang akan habis dalam beberapa suapan? Ternyata, di balik harga selangit itu, ada strategi bisnis dan psikologi konsumen yang bekerja dengan sangat rapi.

Di era digital, Makanan tidak lagi sekadar alat pemuas lapar, melainkan telah bergeser menjadi alat aktualisasi diri dan simbol status.

Ketika seseorang membeli makanan sultan yang sedang viral kemudian Mengunggah foto atau video review makanan mahal di Instagram Story atau TikTok memberikan kepuasan berupa pengakuan sosial. Validasi bahwa mereka adalah bagian dari tren, modern, dan "mampu" secara finansial adalah produk nyata yang mereka beli.

Banyak produsen kuliner mahal sengaja tidak memproduksi menu mereka secara massal. Mereka menggunakan taktik pemasaran yang cerdas:

• Sistem Pre-Order (PO) dengan kuota sangat terbatas.

• Menu musiman yang diberi label Limited Edition.

• Batasan pembelian per orang per hari.

Langkah ini sengaja dilakukan untuk memicu psikologi FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal. Ketika sebuah makanan dicap "susah didapat" sekaligus "mahal", nilai prestisenya langsung meroket di mata konsumen.

Kuliner premium kini dipandang sebagai bentuk pelarian instan yang paling mudah diakses untuk melepaskan stres dari rutinitas harian. Membeli sepotong kue premium seharga Rp150.000 dirasa jauh lebih masuk akal dan murah dibandingkan harus membeli tiket liburan untuk sekadar healing.

Bagi segmen pasar kelas menengah ke atas, harga tinggi justru menjadi indikator jaminan kualitas. Mereka akan kehilangan minat jika makanan tersebut dijual dengan harga murah karena dianggap "pasaran". Produsen kuliner sultan sangat memahami celah ini; mereka tidak menjual produknya ke semua orang, melainkan hanya ke mereka yang mencari gengsi dan rasa eksklusif.

Fenomena kuliner sultan yang tak pernah sepi pembeli membuktikan bahwa bisnis makanan saat ini adalah bisnis pengalaman (experience). Rasa yang enak hanyalah syarat dasar yang wajib ada, namun cerita di balik makanan tersebut, estetika visualnya, gengsi saat membelinya, hingga validasi digital yang didapatkan setelahnya adalah esensi utama yang membuat orang rela mengantre dan membayar mahal.

Selama media sosial masih menjadi panggung gaya hidup utama, tren kuliner berharga selangit ini diprediksi tidak akan pernah kehabisan pembeli yang haus akan pengalaman baru. (Yuanita)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....