Dibalik Keceriaan, Tersimpan Ketegaran Seorang Penyiar RRI
- 09 Jul 2026 12:58 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bagi pendengar setia RRI Pro 4 Malang, sapaan khas Budhe Mey sudah menjadi suntikan semangat setiap hari. Jargon, "Selalu bahagia, ceria, sukacita sepanjang masa di manapun dan kapan pun dalam situasi dan kondisi apa pun, pokoknya amazing, awesome, incrediblellll!" begitu melekat di telinga pendengar. Sosok emak-emak udara yang cerewet, ceplas-ceplos, dan penuh energi itu sukses menciptakan kedekatan emosional dengan masyarakat.
Namun, di balik karakter yang selalu riuh dan menghibur, tersimpan pribadi yang jauh berbeda. Pemilik suara Budhe Mey, Mamik Dwi Purwaningsih, mengaku dirinya justru cenderung tertutup dalam kehidupan sehari-hari.
"Aslinya saya justru sedikit introvert mungkin ya, hahahaha. Sebenarnya di dunia nyata saya tidak pandai ngelawak. Kalau lucu itu memang tergantung situasi saat siaran saja, kadang terjadi spontan saat ada interaktif dengan pendengar," ujar Mamik kepada RRI, Kamis (9/7/2026).
Karakter Budhe Mey tidak lahir begitu saja. Mamik mengaku membutuhkan proses panjang untuk menemukan sosok yang kini begitu dikenal masyarakat. Berawal dari berbagai percobaan, ia perlahan membangun karakter seorang "budhe" yang identik dengan sosok cerewet, hangat, sekaligus apa adanya. Seiring waktu, karakter itu bukan hanya dimainkan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari dirinya saat berada di depan mikrofon.
Kedekatan yang terbangun bersama pendengar ternyata melahirkan hubungan yang lebih dari sekadar penyiar dan audiens. Mamik merasakan sendiri besarnya perhatian masyarakat ketika dirinya mengalami kecelakaan kerja. Di luar dugaan, sejumlah pendengar datang menjenguk sambil membawa makanan dan obat-obatan.
"Saya langsung didatangi pendengar dan dibawakan makanan serta obat-obatan. Itu yang paling mengharukan. Sering sekali juga dapat kiriman makanan. Kadang itu membuat saya sedih, haru, sekaligus bahagia," kenangnya.
Di balik suara yang selalu terdengar ceria, Mamik juga menyimpan kisah tentang profesionalisme. Sebagai penyiar, ia tidak selalu berada dalam kondisi terbaik. Ada saat-saat ketika persoalan pribadi harus disimpan rapat demi tetap menghadirkan suasana hangat bagi para pendengar.
"Saya pernah harus dinas siaran saat saya habis menangis, dan itu membuat suara saya terdengar serak. Pasti berpengaruh bagi pendengar. Tapi saya harus profesional dan komitmen menunjukkan karakter Budhe Mey yang selalu ceria," ungkapnya.
Baginya, setiap kali lampu mikrofon menyala, yang hadir bukan lagi persoalan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk menemani masyarakat melalui suara. Di tengah derasnya arus informasi digital, radio tetap memiliki ruang istimewa sebagai sahabat yang hadir tanpa memandang waktu.
"Seorang penyiar bukan sekadar orang yang berbicara di depan mikrofon. Penyiar adalah penjaga ruang dengar, yang menghadirkan informasi, menemani mereka yang kesepian, dan membangun kedekatan melalui suara. Profesi penyiar bukan hanya pekerjaan, melainkan sebuah pengabdian," tutup Mamik.
Kisah Mamik Dwi Purwaningsih menjadi pengingat bahwa di balik suara yang selalu menghibur, ada dedikasi, ketulusan, dan pengorbanan yang tak selalu terdengar. Budhe Mey mungkin identik dengan tawa dan keceriaan, tetapi di balik mikrofon, ia adalah sosok penyiar yang memilih tetap tersenyum agar pendengarnya juga bisa tersenyum.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....