Revenge Porn Berawal dari Manipulasi Emosional, Kenali Tanda-Tandanya sejak Dini
- 09 Jul 2026 13:40 WIB
- Malang
RRI.CO.ID,Malang -Di era digital saat ini, batasan privasi dalam sebuah hubungan asmara kerap kali kabur. Istilah "Pap Jadi Trap" menjadi fenomena nyata di mana pengiriman foto intim yang awalnya didasari atas nama kepercayaan atau tren, justru berujung pada tindakan Revenge Porn (penyebaran foto intim tanpa izin) saat hubungan tersebut berakhir buruk.
Pakar Psikologi dari Castle Rock Indonesia, Meike Kregenberg, S.Psi., CHRM., menjelaskan bahwa korban sering kali mengirimkan foto atau video intim bukan karena paksaan fisik, melainkan karena manipulasi psikologis yang halus.
"Awalnya mungkin untuk memangkas jarak bagi yang menjalani hubungan jarak jauh (LDR), atau karena korban memiliki tipe kepribadian anxious yang merasa dengan memberi foto tersebut, kelekatan hubungan akan terjaga," ungkap Meike saat di wawancarai oleh RRI Malang dalam program Jaga Malam Mental Health, Selasa (07/07/2026).
Untuk mencegah agar hubungan asmara tidak berubah menjadi trauma psikologis yang mendalam, berikut adalah tips menjaga batasan diri dalam berpacaran di era digital:
1. Waspadai Tanda-Tanda Love Bombing
Pelaku kejahatan sextortion atau revenge porn umumnya adalah orang terdekat yang sangat manipulatif, bahkan ada yang memiliki gangguan kepribadian narsistik (NPD). Di awal hubungan, mereka biasanya melakukan love bombing—menghujani korban dengan perhatian dan pujian berlebih demi mendapatkan kepercayaan penuh (trust). Jika pasangan Anda terasa "terlalu sempurna" dan mulai menuntut hal-hal privat terlalu cepat, Anda patut waspada.
2. Gunakan Logika, Jangan Larut dalam Emosi
Perempuan sering kali menjadi gender yang paling banyak dirugikan dalam kasus ini karena kecenderungan melibatkan emosi yang mendalam saat mencinta. Mulai sekarang, generasi muda harus lebih rasional. Pikirkan dampak jangka panjangnya: sekali data digital dikirim, Anda kehilangan kendali penuh atas foto tersebut selamanya.
3. Bangun Rasa Percaya Diri (Self-Confidence) yang Setara
Banyak korban menuruti permintaan foto intim karena takut ditinggalkan atau merasa tidak berharga jika menolak keinginan pasangan. Meike menegaskan pentingnya memiliki pemikiran bahwa diri Anda berharga. Hubungan yang sehat harus berjalan setara, menghormati privasi, dan tidak didasari atas ancaman "kalau kamu gak mau, kita putus".
4. Hentikan Self-Blame (Menyalahkan Diri Sendiri)
Jika Anda sudah terlanjur menjadi korban, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ingat, mengirimkan foto dalam konteks hubungan privat bukanlah kejahatan; menyebarkan dan mengancam menggunakan foto itulah yang merupakan tindak kriminal murni. Sadari bahwa kendali hidup dan martabat Anda ada di tangan Anda sendiri, bukan di tangan pelaku.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....