Mengenal Triple Planetary Crisis dan Dampaknya bagi Kehidupan

  • 15 Jun 2026 13:08 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai persoalan lingkungan yang semakin mendesak. Tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mengangkat isu Triple Planetary Crisis.

Dalam talkshow SPADA Lingkungan Hidup yang digelar Pro 2 RRI Malang, Founder SIMTESIS, Adam Taufan Firdaus menjelaskan bahwa Triple Planetary Crisis terdiri dari tiga masalah besar yang saling berkaitan yaitu perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati yang terakumulasi dari aktivitas manusia yang terus meningkat. Adam menjelaskan bahwa krisis ini terjadi akibat akumulasi aktivitas manusia selama bertahun-tahun.

“Pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya penggunaan energi fosil, produksi sampah yang terus bertambah, hingga tata kelola lingkungan yang belum optimal menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut.” ujarnya, Jumat (12/06/2026).

Ia menilai persoalan lingkungan saat ini bukan hanya soal perilaku individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem dan kebijakan yang belum sepenuhnya mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, Co-Founder Wonosantri, M. Ali Machrus mengibaratkan Triple Planetary Crisis seperti seseorang yang mengalami tiga penyakit secara bersamaan.

"Kalau dari tubuh itu saya bilang seperti demam, gizi buruk, dan batuk secara bersamaan. Awalnya orang hanya merasa musim berubah, lalu cuaca makin panas, hewan-hewan mulai berkurang. Ternyata kita memang sedang menghadapi kondisi itu," jelasnya.

Menurut Ali, masyarakat yang hidup dekat dengan alam menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya, terutama para petani yang kini menghadapi musim yang semakin sulit diprediksi. Dampak Triple Planetary Crisis pun kini semakin nyata di sekitar kita. Suhu udara yang terasa lebih panas, musim hujan dan kemarau yang tidak menentu, meningkatnya risiko banjir, berkurangnya debit sumber air, hingga menurunnya hasil pertanian merupakan beberapa contoh yang sudah dirasakan masyarakat.

Di Malang sendiri, banyak orang yang merasakan cuaca tidak lagi sedingin dulu. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan yang sedang terjadi saat ini dan membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk mengatasinya.

Triple Planetary Crisis bukan lagi sekadar istilah yang dibahas para ahli lingkungan, melainkan kenyataan yang mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peran untuk menjaga bumi agar tetap layak dihuni, hari ini maupun di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....