Mendak Tirta Awali Rangkaian Yadnya Kasada
- 31 Mei 2026 12:06 WIB
- Malang
RRI. CO. ID, Probolinggo – Puluhan warga Hindu Tengger menggelar ritual Mendak Tirta di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Nogorejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jumat (29/5/2026). Ritual pengambilan air suci ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan menyambut Yadnya Kasada yang akan digelar di Pura Luhur Poten, lautan pasir Gunung Bromo.
Sejak pagi, masyarakat Tengger berjalan beriringan menuju sumber mata air sambil membawa sesaji hasil bumi dan melantunkan doa-doa suci. Prosesi berlangsung khidmat di tengah suasana sejuk dan kabut tipis yang menyelimuti kawasan Madakaripura.
Bagi masyarakat Tengger, Mendak Tirta bukan sekadar tradisi mengambil air suci. Ritual ini merupakan simbol penyucian diri serta wujud penghormatan terhadap hubungan harmonis antara manusia, alam dan Sang Hyang Widhi Wasa sebelum memasuki puncak perayaan Yadnya Kasada.
Dalam prosesi tersebut hadir Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto, sejumlah sesepuh Tengger, tokoh adat serta perangkat desa dari kawasan Sukapura. Ritual dipimpin oleh pemangku Desa Ngadas, Pak Slamet, yang memimpin doa dan pembacaan mantra suci.
Setelah rangkaian doa selesai, para pemangku mengambil air dari sumber yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi. Sebagian sesaji kemudian dilarung ke aliran air terjun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam semesta.
Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menjelaskan, air suci yang digunakan dalam Yadnya Kasada tidak hanya berasal dari Madakaripura. Terdapat empat sumber mata air yang menjadi bagian dari ritual penyucian tersebut.
"Air suci diambil dari Madakaripura di Kabupaten Probolinggo, Watu Klosot dan Ranu Pane di Lumajang serta Widodaren di kawasan Bromo. Seluruh air itu dikumpulkan menjadi satu dan digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten," Jelas Bambang, Minggu (31/5/2026)
Menurut Bambang, pengambilan tirta dilakukan secara serentak oleh masyarakat Tengger di wilayah Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang sebagai simbol persatuan masyarakat adat Tengger dalam menyambut Kasada.
Sementara itu, Camat Sukapura Nur Rachmat Sholeh menegaskan pemerintah akan terus mendukung pelestarian ritual Mendak Tirta sebagai warisan budaya yang hidup dan terus dijaga oleh masyarakat Tengger.
"Mendak Tirta adalah ritual tahunan masyarakat Tengger. Pemerintah akan terus mendukung agar tradisi ini tetap lestari," katanya.
Madakaripura dipilih sebagai lokasi pengambilan tirta karena memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Masyarakat Tengger meyakini kawasan tersebut berkaitan dengan perjalanan Patih Gajah Mada pada masa Kerajaan Majapahit dan menjadi tempat moksa sang mahapatih.
Ritual Mendak Tirta menjadi penanda dimulainya rangkaian Yadnya Kasada, tradisi sakral masyarakat Tengger yang berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Melalui ritual ini, masyarakat berharap dapat menyambut Kasada dengan hati yang bersih, penuh rasa syukur serta penghormatan kepada leluhur dan alam semesta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....