Kerja Lembur Berlebih Tingkatkan Risiko Penyakit dan Gangguan Mental

  • 06 Mei 2026 20:36 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Fenomena kerja lembur atau overtime semakin menjadi bagian dari tuntutan profesionalisme di era modern. Namun di balik tingginya dedikasi pekerja, terdapat risiko serius terhadap kesehatan fisik dan mental yang kerap terabaikan.

Organisasi seperti World Health Organization dan International Labour Organization sejak 2016 telah menyoroti dampak jam kerja panjang terhadap kesehatan global. Dalam laporan tersebut, jam kerja lebih dari 55 jam per minggu dikaitkan dengan ratusan ribu kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Data menunjukkan, pekerja dengan jam kerja berlebih memiliki risiko stroke hingga 35 persen lebih tinggi serta peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik sebesar 17 persen dibandingkan mereka yang bekerja dalam durasi normal. Secara global, beban penyakit ini paling banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, kerja lembur juga berpengaruh besar terhadap kondisi mental. Jam kerja yang panjang dapat memicu stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa semakin lama seseorang bekerja dalam seminggu, semakin tinggi pula risiko gangguan kesehatan mental yang dialami.

Kondisi ini diperparah oleh kurangnya waktu istirahat dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pekerja yang tidak memiliki kontrol terhadap waktu kerja juga cenderung mengalami tekanan psikologis yang lebih besar.

Selain itu, jam kerja berlebih turut berdampak pada kualitas tidur. Kurangnya waktu istirahat menyebabkan gangguan tidur, kelelahan berkepanjangan, serta menurunnya konsentrasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk gangguan jantung dan metabolisme.

Perilaku tidak sehat juga kerap muncul sebagai dampak lanjutan dari kerja lembur, seperti pola makan tidak teratur, kurangnya aktivitas fisik, hingga peningkatan konsumsi alkohol dan rokok. Kombinasi faktor tersebut semakin memperbesar risiko penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2.

Para ahli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai langkah pencegahan. Pengaturan waktu kerja yang lebih fleksibel serta kesadaran individu untuk menjaga kesehatan menjadi kunci dalam mengurangi dampak negatif kerja lembur.

Dengan memahami risiko yang ada, diharapkan pekerja maupun perusahaan dapat lebih memperhatikan aspek kesehatan dalam lingkungan kerja, sehingga produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....