Makna dan Jenis Tawaf dalam Ibadah Haji dan Umroh
- 05 Mei 2026 09:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Tawaf merupakan salah satu ibadah inti dalam rangkaian haji dan umroh yang memiliki makna mendalam bagi setiap Muslim. Secara sederhana, tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama. Posisi bahu kiri selalu menghadap Ka’bah, dengan arah putaran berlawanan jarum jam. Gerakan ini bukan sekadar ritual fisik, tetapi juga simbol ketundukan, kecintaan, dan penghambaan total kepada Allah SWT. Dalam praktiknya, tawaf menjadi momen spiritual yang sangat kuat, karena dilakukan di pusat kiblat umat Islam dari seluruh dunia.
Menurut Ustadz Rosyad dalam dialog tausiyah Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Malang, Senin (4/5/2026), tawaf bukan hanya tentang gerakan mengelilingi bangunan suci, tetapi juga perjalanan hati. “Tawaf itu menggambarkan bahwa hidup kita harus selalu berporos kepada Allah. Sebagaimana kita mengelilingi Ka’bah, maka seluruh aktivitas hidup kita pun seharusnya berpusat pada ketaatan kepada-Nya,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa nilai tawaf jauh melampaui aspek lahiriah, melainkan menyentuh dimensi batin yang mendalam.
Ada beberapa jenis tawaf yang perlu dipahami oleh jamaah haji dan umroh. Pertama adalah tawaf qudum, yaitu tawaf yang dilakukan ketika pertama kali memasuki Masjidil Haram dan melihat Ka’bah. Tawaf ini menjadi bentuk penghormatan kepada Baitullah. Ustadz Rosyad menyampaikan, “Tawaf qudum adalah salam pertama seorang tamu kepada rumah Allah. Maka lakukan dengan penuh haru, syukur, dan kesadaran bahwa kita sedang berada di tempat paling mulia.” Tawaf ini biasanya dilakukan oleh jamaah haji sebagai pembuka rangkaian ibadah mereka.
Selanjutnya adalah tawaf umroh, yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah umroh itu sendiri, dengan mengenakan pakaian ihram, kemudian tawaf, sa’i, dan diakhiri dengan tahallul (mencukur rambut). Berbeda lagi dengan tawaf ifadah, yang merupakan rukun haji dan tidak bisa digantikan dengan denda (dam). Tawaf ini dilaksanakan setelah jamaah menyelesaikan wukuf di Arafah. “Tawaf ifadah adalah penentu sah atau tidaknya haji seseorang. Maka tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun,” tegasnya.
Selain itu, ada tawaf sunnah yang bisa dilakukan kapan saja selama berada di Masjidil Haram tanpa harus mengenakan pakaian ihram. Tawaf ini menjadi amalan tambahan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak pahala. Ustadz Rosyad menambahkan, “Selama di Tanah Suci, jangan sia-siakan waktu. Perbanyak tawaf sunnah, shalat sunnah, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Itu bekal ruhani yang luar biasa.” Tawaf sunnah menjadi kesempatan emas bagi jamaah untuk mendekatkan diri lebih intens kepada Allah SWT.
Terakhir, tawaf wada dilakukan sebagai perpisahan sebelum meninggalkan Masjidil Haram, biasanya saat jamaah akan kembali ke tanah air. Tawaf ini menjadi momen haru karena menandai akhir dari perjalanan ibadah di Tanah Suci. “Tawaf wada adalah salam perpisahan. Lakukan dengan hati yang penuh doa, semoga Allah memanggil kita kembali ke Baitullah,” ungkap Ustadz Rosyad. Dengan memahami jenis-jenis tawaf ini, diharapkan setiap jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk, tertib, dan penuh makna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....