Hari Pendidikan Nasional, Inovasi Guru Malang Manfaatkan Tren Digital
- 02 Mei 2026 09:36 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Momentum Hari Pendidikan Nasional dimaknai sebagai ajang refleksi sekaligus penguatan kolaborasi dalam dunia pendidikan. Hal tersebut disampaikan Zainul Hasan, M.Pd., Gr., guru mata pelajaran Sejarah dan Antropologi di SMA Negeri 1 Malang, saat diwawancarai dalam program SPADA RRI bersama host Irene Nathasya, Sabtu (2/5/2026).
Zainul mengungkapkan, selama kurang lebih sembilan tahun mengajar, ia merasakan kebahagiaan yang sangat besar dalam profesinya sebagai guru. “Kalau ditanya berapa banyak happy-nya, jujur lebih banyak happynya, bahkan bisa dibilang 110 persen happy menjadi seorang guru,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran di era saat ini menuntut guru untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, khususnya dalam memahami karakter dan kebiasaan siswa generasi digital. Ia menilai, pendekatan konvensional sudah tidak lagi efektif untuk menarik minat belajar siswa.
“Di era digital saat ini belajar bisa dari mana saja, termasuk dari media sosial. Maka apa yang sedang tren di kalangan anak muda, seperti TikTok, saya coba kaitkan dengan materi pembelajaran. Misalnya tugas membuat konten di lokasi bersejarah, sehingga mereka bisa belajar sekaligus memahami nilai sejarah secara langsung,” jelasnya.
Zainul menambahkan, metode tersebut tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga mendorong siswa untuk lebih mengenal dan mencintai sejarah. Ia menilai, kedekatan emosional antara guru dan siswa menjadi kunci keberhasilan proses belajar mengajar.
“Sekarang tantangannya berbeda. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tapi juga harus memahami tren dan membangun kedekatan dengan siswa. Peran guru juga bisa menjadi pendamping atau konselor, karena anak-anak sering butuh diskusi dan konfirmasi,” imbuhnya.
Dalam memaknai Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara, Zainul menekankan pentingnya “sinergi” antara guru, siswa, dan orang tua.
“Sabtu, 2 Mei 2026 ini saya ingin menekankan satu kata, yaitu sinergi. Sesuai dengan nilai ‘Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’, pendidikan harus melibatkan semua pihak agar tidak hanya menjadi seremonial, tetapi benar-benar menghasilkan dampak nyata,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti tantangan penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Menurutnya, penggunaan gadget tetap diperbolehkan selama berada dalam pengawasan dan digunakan untuk mendukung kegiatan belajar.
“Bukan berarti gadget harus dilarang total, tapi perlu diatur agar tidak berlebihan dan tetap mendukung pembelajaran serta interaksi sosial siswa,” katanya.
Di akhir wawancara, Zainul mengingatkan bahwa proses belajar tidak terbatas pada pendidikan formal saja, melainkan berlangsung sepanjang hayat.
“Manusia adalah pembelajar sepanjang hayat. Jangan pernah jenuh untuk belajar, karena dunia tidak akan menunggu kita siap. Kita yang harus menyiapkan diri,” ujarnya.
Ia pun berharap, ke depan sinergi dalam dunia pendidikan semakin kuat untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Harapan saya, sinergitas semakin meningkat dari semua pihak, sehingga pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata. Selamat Hari Pendidikan Nasional,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....