Makna Ikhlas dan Pamrih dalam Islam

  • 15 Apr 2026 16:11 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Pembahasan mengenai makna ikhlas dan pamrih dalam ajaran Islam menjadi topik utama dalam program Cahyaning Ati yang disiarkan melalui Pro 4 Radio Republik Indonesia Malang, Rabu (15/4/2026). Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa ikhlas merupakan salah satu akhlak utama dalam Islam, yakni melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah SWT tanpa disertai kepentingan pribadi atau harapan imbalan dari manusia.

Dalam pemaparannya, narasumber kajian, Ustaz Abdul Aziz, menyampaikan bahwa Allah SWT menghendaki umat-Nya menjalankan berbagai bentuk ibadah dengan penuh keikhlasan. Ibadah seperti salat, puasa, zakat hingga haji seharusnya dilakukan dengan niat hanya untuk mengagungkan Allah SWT. Bahkan aktivitas sehari-hari pun dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang tulus karena-Nya.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan antara orang yang ikhlas dan yang pamrih dapat dilihat dari niat dalam beribadah. Orang yang pamrih cenderung menjalankan ibadah demi kepentingan pribadi, misalnya hanya untuk mengejar pahala atau tujuan tertentu. Sementara itu, orang yang ikhlas menunaikan ibadah semata-mata karena Allah SWT, sebagaimana tercermin dalam doa iftitah yang menyatakan bahwa hidup dan mati hanya untuk-Nya. Meski demikian, mengharapkan pahala tidaklah dilarang karena hal tersebut tetap menjadi hak Allah SWT.

Selain itu, keikhlasan juga dapat terlihat dalam pelaksanaan ibadah puasa. Orang yang benar-benar ikhlas menjalankan puasa karena perintah Allah SWT, bukan semata-mata karena manfaat lain seperti kesehatan atau kepentingan duniawi. Meski demikian, berbagai manfaat positif seperti kesehatan tubuh, kelancaran rezeki maupun kemudahan dalam berbagai urusan dapat menjadi hikmah dari ibadah yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Dalam kajian tersebut juga disampaikan bahwa amal ibadah sejatinya merupakan bentuk doa terbaik seorang hamba kepada Allah SWT. Umat Islam diingatkan agar tidak hanya mengandalkan doa secara lisan, tetapi juga memperbaiki kualitas ibadah dan perilaku sehari-hari. Sikap rendah hati, tidak mudah merasa paling benar, serta perilaku yang mencerminkan akhlak mulia menjadi tanda bahwa ibadah yang dilakukan telah memberikan dampak positif dalam kehidupan.

Melalui kajian ini, umat Islam diajak untuk terus meluruskan niat dalam setiap amal perbuatan dengan prinsip lillahi ta’ala. Dengan keikhlasan, setiap ibadah yang dilakukan tidak hanya menjadi kewajiban yang ditunaikan, tetapi juga menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperbaiki kualitas kehidupan secara spiritual maupun sosial. (Mey)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....