Stigma Sosial Masih Jadi Tantangan Difabel, Perlu Peran Keluarga dan Masyarakat

  • 14 Apr 2026 18:51 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Stigma sosial masih menjadi tantangan besar bagi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat saat ini. Hal tersebut diungkapkan Ketua Yayasan Pejuang Mimpi Indonesia, Sri Rahayu, dalam dialog bersama RRI Malang.

Permasalahan disabilitas dinilai bersifat dinamis dan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan fisik semata. Tantangan lain juga muncul dari aspek komunikasi, pola asuh keluarga, serta penerimaan sosial di lingkungan sekitar.

“Kendala terbesar justru ada di komunikasi dan bagaimana keluarga memahami kondisi anak-anak mereka,” ujarnya pada Senin (13/4/2026).

Masih terdapat keluarga yang belum sepenuhnya menerima kondisi anak sehingga memilih menyembunyikan mereka dari lingkungan sosial. Kondisi tersebut menyebabkan potensi anak tidak berkembang karena minimnya ruang untuk belajar dan berekspresi secara terbuka.

“Banyak yang justru disembunyikan, padahal mereka punya potensi besar kalau diberi ruang dan kesempatan berkembang,” katanya.

Selain itu, stigma negatif dari masyarakat juga masih ditemukan dalam berbagai bentuk, termasuk anggapan yang tidak berdasar. Hal ini memperkuat tekanan sosial yang dirasakan oleh penyandang disabilitas dan keluarganya dalam kehidupan sehari-hari.

“Masih ada yang menganggap ini aib atau kutukan, padahal anak-anak ini sama seperti anak lainnya,” tegasnya.

Praktik perundungan juga masih terjadi baik secara langsung maupun melalui media sosial terhadap penyandang disabilitas. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya edukasi yang lebih luas agar masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai perbedaan.

“Bullying itu masih ada, bahkan sampai ke orang tua, ini yang membuat beban sosial mereka semakin berat,” ungkapnya.

Sri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungan inklusif melalui kolaborasi dan empati. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk dihargai dan diberi kesempatan berkembang.

“Mereka tidak pernah minta dilahirkan seperti itu, jadi perlakukan mereka secara manusiawi dan setara,” pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....